Tampilan:

Rangkuman Buku: Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat

Penulis: Mark Manson (terjemahan Bahasa Indonesia)

Jumlah BAB: 9 BAB

Total sub-bab: 39


Pengantar

Buku ini ditulis oleh Mark Manson dengan pendekatan yang sangat berbeda dari buku motivasi pada umumnya. Manson tidak menawarkan resep kebahagiaan instan atau daftar hal-hal yang harus dilakukan untuk sukses. Sebaliknya, ia mengundang pembaca untuk menghadapi kenyataan yang sering kali tidak nyaman: bahwa hidup pada dasarnya penuh dengan keterbatasan, penderitaan, dan ketidakpastian—dan bahwa itulah yang membuat hidup layak dijalani.

Inti utama buku ini bisa dirangkum dalam satu kalimat: tidak apa-apa untuk tidak peduli tentang segala hal. Dengan memilih secara sadar apa yang penting dan menolak sisanya, seseorang dapat menjalani hidup yang lebih bermakna, lebih jujur, dan lebih sehat secara emosional. Manson menggunakan humor gelap, contoh nyata, dan refleksi pribadi untuk menjelaskan mengapa menerima kegagalan, keterbatasan, dan bahkan kematian adalah langkah awal untuk menjadi pribadi yang lebih utuh.

Buku ini terbagi dalam 9 BAB, yang membahas mulai dari mitos "menjadi istimewa", pentingnya kegagalan, hingga cara membangun komitmen melalui penolakan. Setiap BAB terdiri dari beberapa sub-bab yang saling membangun argumen secara bertahap.


BAB 1: Jangan Berusaha

Lingkaran Setan

Mark Manson membuka buku ini dengan menyindir budaya yang terobsesi pada perbaikan diri. Contoh Charles Bukowski—penyortir surat di kantor pos, pemabuk, penjudi, dan penulis yang karyanya ditolak bertumpuk-tumpuk—menjadi ilustrasi sempurna. Selama 30 tahun ia hidup dalam alkohol, narkoba, dan depresi. Pada usia 50, seorang editor kecil memberinya kesempatan. Bukowski memilih: "Tetap di kantor pos dan sinting, atau di luar sini menjadi penulis dan kelaparan. Saya lebih memilih kelaparan." Ia lalu menulis novel pertamanya, "Post Office", dalam 3 minggu—dengan dedikasi "Untuk tak seorang pun". Bukowski sukses, menerbitkan 6 novel dan ratusan puisi, terjual lebih dari 2 juta kopi. Namun batu nisannya bertuliskan "Jangan berusaha".

Kisah Bukowski, kata Manson, sering dibingkai sebagai narasi inspiratif "tidak menyerah". Padahal justru sebaliknya: Bukowski tidak pernah berusaha menjadi selain dirinya sendiri. Kecerdasannya lahir dari keberanian mengakui sisi terburuk dirinya dan menulis dengan jujur tentang itu. Dia tidak berubah menjadi orang yang lebih baik setelah terkenal—dia masih kasar, masih minum, masih ekspos tubuh di muka umum. Keberhasilannya bukan hasil kegigihan, melainkan kemampuan jujurnya pada diri sendiri.

Manson kemudian mengkritik budaya modern yang terus menyuruh orang menjadi "lebih bahagia, lebih sehat, lebih pintar, lebih kaya, lebih seksi, lebih populer". Nasihat konvensional justru menyoroti kekurangan: orang belajar cari uang karena merasa tak punya cukup, afirmasi di cermin karena merasa tidak cantik, tips kencan karena merasa tidak layak dicintai. Ironisnya, pengejaran pengalaman positif adalah pengalaman negatif, dan penerimaan pengalaman negatif adalah pengalaman positif—apa yang Alan Watts sebut "hukum kebalikan". Semakin keras mengejar rasa kaya, semakin terasa miskin. Semakin mengejar seks, semakin merasa jelek. Semakin mengejar kebahagiaan, semakin kesepian.

Manson mengakui paradoks ini dengan santai: bahkan pengalamannya menggunakan LSD mengilustrasikan hal yang sama—semakin ia mendekati "rumah", rumah itu menjauh. Kutipan Albert Camus menegaskan: "Anda tidak akan pernah bahagia jika Anda terus mencari apa yang terkandung di dalam kebahagiaan." Inti yang ia ajukan: "Jangan berusaha." Banyak orang protes—bagaimana dengan tabungan untuk Camaro, tubuh six-pack, rumah di tepi danau? Jawabannya: justru karena kurang peduli pada hal-hal itulah seseorang sering berhasil. Rasa capek di gym menghasilkan kesehatan, kegagalan bisnis menghasilkan pemahaman, keterbukaan pada ketidaknyamanan menghasilkan kepercayaan diri, kejujuran menghasilkan rasa percaya. Semua hal bernilai positif dimenangkan melalui pengalaman negatif. Mencoba menghindari penderitaan adalah bentuk penderitaan itu sendiri.

Sebuah Seni untuk Bersikap Masa Bodoh

Manson meluruskan kesalahpahaman: bersikap masa bodoh bukan berarti acuh tak acuh. Orang yang benar-benar acuh sebenarnya lemah dan pengecut—mereka "couch potatoes" (pemalas) dan "tukang usil" di internet yang justru terlalu peduli pada pendapat orang lain, lalu bersembunyi di balik sarkasme dan kritik pedas. Manson memperkenalkan tiga "seni" untuk menjernihkan perkara ini.

Seni pertama: masa bodoh bukan menjadi acuh, melainkan nyaman menjadi berbeda. Tidak ada yang bisa dikagumi dari acuh tak acuh. Contoh: ibu Manson baru saja ditipu teman dekatnya. Jika ia acuh, ia akan menyeruput moka sambil mengunduh serial The Wire. Tapi yang ia lakukan adalah naik pitam, siap menggugat si penipu. Ilustrasi ini menunjukkan seni pertama: ia tidak acuh pada hal yang menghalangi tujuannya, tapi sangat peduli pada kebenaran dan keadilan. Orang yang benar-benar "bodo amat" bukan orang yang tak peduli apa pun—melainkan orang yang rela menanggung risiko, ejekan, dan dijauhi demi nilai-nilai yang diyakininya. Mereka menyimpan kata "persetan" untuk hal-hal yang benar-benar penting: keluarga, teman, tujuan hidup.

Seni kedua: untuk bisa bilang "bodo amat" pada kesulitan, seseorang harus peduli pada sesuatu yang lebih penting dari kesulitan itu. Contoh kontras: wanita tua di toko yang memaki kasir demi kupon 3 sen. Ia meledak bukan karena kupon—ia meledak karena delapan puluh tahun kekecewaan, kesepian, anak yang tak pernah datang, tunjangan pensiun yang menyedihkan, tidak bercinta lebih dari 30 tahun. Kupon adalah satu-satunya hal yang bisa ia peduli. Orang yang mencurahkan perhatian berlebihan pada hal sepele—foto mantan di Facebook, baterai remote TV, hand sanitizer gratis—adalah orang yang tidak punya sesuatu yang lebih bermakna untuk diperhatikan.

Seni ketiga: sadar atau tidak, kita selalu memilih apa yang diperhatikan. Saat kecil semua terasa baru dan berarti, sehingga kita peduli pada segalanya. Beranjak dewasa, kita mulai selektif. Inilah yang disebut kedewasaan—belajar peduli hanya pada hal yang benar-benar berharga. Memasuki paruh baya, energi menurun, identitas menguat. Kita menerima diri sepenuhnya, termasuk bagian yang tak membanggakan. Kita tahu tak akan pernah ke bulan atau "merasakan puting Jennifer Aniston"—dan itu tak apa. Hidup berjalan, dan perhatian yang tersisa bisa dicurahkan untuk hal yang benar-benar layak: keluarga, sahabat, ayunan golf. Herannya, penyederhanaan ini justru membahagiakan. Mungkin kata Bukowski memang benar: jangan berusaha.

Jadi Mark Ngomong-Ngomong

Manson menamai sub-bab ini dengan merujuk pada dirinya sendiri—menyindir para penulis "pencerahan" yang sok bijak. Inti argumennya: masyarakat sedang menghadapi wabah psikologis, ketika orang tidak lagi menerima bahwa kadang hidup memang tidak menyenangkan. Kepercayaan bahwa ketidaksempurnaan itu memalukan adalah sumber Lingkaran Setan yang mulai menguasai peradaban.

Manson menegaskan bahwa buku ini tidak menjanjikan kehidupan bebas masalah. Tidak ada trik menghilangkan penderitaan, tidak ada panduan menjadi agung—karena keagungan adalah ilusi, kota Atlantis dalam psikologi kita. Yang buku ini tawarkan adalah mengubah rasa sakit menjadi peranti, trauma menjadi kekuatan, masalah menjadi masalah yang lebih baik. Pembaca akan belajar bergerak ringan walau beban berat, beristirahat ditemani ketakutan terbesar, menertawakan air mata yang tumpah.

Buku ini bukan tentang mendapatkan atau mencapai sesuatu, melainkan tentang melepas dan melepaskan. Membuat inventaris hidup, menyortir yang terpenting, memejamkan mata dan percaya bisa jatuh ke belakang dalam keadaan baik-baik saja. Buku ini akan mengajarkan untuk peduli lebih sedikit. Untuk "jangan berusaha".

Apa Inti Buku Ini

Sebelum beralih ke bab berikutnya, Manson merangkum janji buku: membantu pembaca berpikir lebih jernih dalam memilih mana yang penting dan mana yang sebaliknya. Ia mengingatkan bahwa buku ini akan terasa blak-blakan, mungkin menyakitkan—tapi itulah gunanya. Sebab terlalu banyak nasihat "sopan" di luar sana yang justru menjebak orang dalam kemustahilan menjadi sempurna.

BAB 2: Kebahagiaan itu Masalah

Rentetan Kesialan Si Panda Nyinyir

Manson membuka Bab 2 dengan kisah pangeran di kaki bukit Himalaya, 2.500 tahun lalu—yang akhirnya dikenal sebagai Buddha. Ayahnya, seorang raja, ingin memberikan hidup sempurna: tidak pernah mengenal penderitaan. Ia membangun tembok tinggi mengelilingi istana, memenuhi setiap keinginan sang pangeran. Hasilnya? Pangeran tumbuh menjadi pemuda yang judes, hampa, segala yang diberikan ayahnya tak pernah cukup.

Suatu malam, pangeran menyelinap keluar dan melihat dunia: orang sakit, orang lanjut usia, gelandangan, orang yang sekarat. Krisis eksistensial meledak. Pangeran menyalahkan ayahnya—kekayaan membuatnya menderita. Solusi ekstrem: melepas segalanya, tinggal di jalanan, mengemis, kelaparan. Bertahun-tahun ia hidup seperti sampah masyarakat, hanya makan sepotong kacang sehari. Penderitaan yang dirancang itu tidak juga membawa pencerahan. Malah, ia menyadari: penderitaan juga menyebalkan, sama kosongnya jika tanpa tujuan. Akhirnya ia duduk di bawah pohon selama 49 hari. Kesadaran pertama: hidup itu sendiri adalah penderitaan—orang kaya menderita karena kekayaannya, orang miskin menderita karena kemiskinannya, yang mengejar kenikmatan menderita karena pengejaran itu sendiri, yang tanpa kenikmatan menderita karena tak pernah merasakannya. Prinsip Buddha: rasa sakit dan kehilangan tidak dapat dielakkan, dan kita harus belajar berhenti menolaknya.

Manson setuju, tapi akan menyampaikannya dari perspektif biologis dengan perumpamaan Panda Nyinyir—pahlawan super dengan topeng mata murahan dan kaos T kekecilan, yang kekuatan supernya mengatakan kebenaran menyakitkan tapi perlu didengar. Keliling dari pintu ke pintu seperti salesman Kitab Suci, Panda Nyinyir berkata: "Menghasilkan banyak uang tak otomatis membuat anak-anak mencintai Anda", "Jika ditanya soal kepercayaan pada istri, hati kecil Anda mungkin menjawab tidak", "Yang Anda sebut pertemanan adalah upaya konstan membuat orang terkesan." Kedengarannya gila dan menyedihkan, tapi memotivasi. Kebenaran paling agung biasanya yang paling tidak enak.

Manson lalu "memakai topeng Panda": alasan kita menderita adalah karena secara biologis penderitaan itu bermanfaat. Spesies kita berevolusi hidup dalam derajat ketidakpuasan dan kegelisahan tertentu—karena hanya makhluk yang kurang puas dan tak terlalu aman yang bisa berinovasi dan bertahan. Kita merasa tak puas dengan yang dimiliki dan hanya puas dengan yang tak dimiliki. Jadi, rasa sakit dan penderitaan bukan hama evolusi—itu keistimewaan.

Rasa sakit adalah alat paling efektif tubuh untuk mendorong aksi. Contoh sederhana: tersandung. Anda meneriakkan kata-kata kasar, menyalahkan meja goblok, mempertanyakan filosofi desain interior. Tapi rasa sakit itu ada karena alasan kuat—produk sistem saraf, mekanisme umpan balik yang memberi tahu kita proporsi fisik sendiri. Ketika melampaui batas, sistem saraf menghukum agar kita tidak melakukannya lagi. Begitu pula rasa sakit psikis: otak tidak mencatat banyak perbedaan antara sakit fisik dan psikis. Derita emosional akibat penolakan atau kegagalan mengajarkan kita cara mencegah kesalahan yang sama.

Tapi bahaya muncul di masyarakat yang mengelak dari ketidaknyamanan hidup—kita kehilangan manfaat dari dosis rasa sakit yang menyehatkan. Masalah tidak pernah berakhir; masalah hanya berganti dan/atau meningkat. Warren Buffett punya masalah keuangan, gelandangan mabuk di Kwik-E Mart juga punya masalah—sederhana saja beda kualitas masalahnya. "Jangan mengharapkan kehidupan bebas masalah," kata Panda Nyinyir. "Berharaplah akan hidup yang penuh dengan masalah-masalah yang baik."

Kebahagiaan Berasal dari Memecahkan Masalah

Manson mengembangkan tesis Panda Nyinyir: masalah adalah konstanta. Saat Anda memecahkan masalah kesehatan dengan membayar gym, Anda menciptakan masalah baru—harus bangun awal, mandi keringat 30 menit di atas elliptical (mesin latihan stasioner), ganti baju sebelum kerja. Saat memecahkan masalah tak bisa kencan malam dengan pasangan, Anda menciptakan masalah baru: cari ide kencan, pastikan anggaran, cari keintiman yang hilang, cari bahan bercinta di bathtub. Masalah tak pernah berhenti; mereka hanya datang silih berganti.

Kabar baiknya, di situlah letak kebahagiaan: dari keberhasilan memecahkan masalah. Kata kuncinya adalah "memecahkan". Jika Anda berusaha menghindari masalah atau berpura-pura tak punya masalah, Anda akan membuat diri sengsara. Jika Anda merasa punya masalah yang tak bisa diselesaikan, Anda juga membuat diri sengsara. Bumbu rahasianya ada di kata memecahkan, bukan pada punya atau tidak punya masalah.

Kebahagiaan adalah suatu bentuk tindakan—kegiatan, bukan sesuatu yang diam-diam diberikan, bukan temuan di 10 artikel teratas Huffington Post. Bukan muncul saat punya cukup uang untuk kamar tambahan, bukan menunggu di suatu tempat, ide, pekerjaan, atau bahkan buku yang membahasnya. Kebahagiaan adalah proses kerja konstan, karena memecahkan masalah juga proses konstan—solusi hari ini meletakkan fondasi untuk masalah esok, dan seterusnya.

Masalah bisa sederhana (makan sehat, pergi ke tempat baru, tamatkan video game) atau abstrak dan rumit (perbaiki hubungan dengan ibu, karier yang disukai, persahabatan lebih baik). Konsepnya sama: selesaikan, lalu berbahagialah. Sayangnya, banyak orang menghadapi masalah dengan dua cara buruk. Pertama, penyangkalan: mereka mengingkari kenyataan punya masalah, terus menipu dan mengalihkan diri—hasilnya hidup yang rapuh, neurotik, dan penuh pengekangan emosional. Kedua, mentalitas korban: mereka meyakini tak bisa melakukan apa-apa, menyalahkan orang atau situasi luar—hasilnya hidup yang penuh amarah, ketakberdayaan, dan keputusasaan.

Kedua cara itu gampang dan enak, sementara menyelesaikan masalah sulit dan tak menyenangkan. Semuanya memberi "t tinggi"—pelarian sementara yang terasa nyaman. Alkohol, pembenaran moral dari menyalahkan orang lain, sensasi petualangan berisiko. Dunia lebih banyak menjajakan pelarian dibanding cara memecahkan masalah yang masuk akal. Banyak guru kepribadian mengajarkan bentuk penyangkalan baru dengan latihan yang terasa enak jangka pendek tapi mengabaikan isu mendasar.

Yang lupa: tak seorang pun yang bahagia perlu berdiri di depan cermin dan berulang kali berkata pada diri sendiri kalau dia bahagia. "T tinggi" juga menimbulkan kecanduan. Semakin tergantung pada hal yang membuat lebih baik, semakin sering mencarinya. Hampir semua hal bisa menimbulkan kecanduan tergantung motivasinya. Semakin lama menghindari, semakin besar rasa sakit saat akhirnya menghadapi masalah.

Emosi Dinilai Terlalu Tinggi

Manson meluruskan soal emosi: emosi berkembang untuk satu tujuan spesifik—membantu kita hidup dan menjadikannya sedikit lebih baik. Titik. Emosi adalah mekanisme umpan balik yang mengatakan apakah sesuatu itu sepertinya benar atau salah—tidak kurang, tidak lebih. Seperti sakit akibat menyentuh kompor panas yang mengajari untuk tidak menyentuhnya lagi, kesedihan karena kesepian mengajari untuk tidak melakukan hal yang membuat kesepian lagi. Emosi adalah sinyal biologis yang dirancang mengarahkan pada perubahan bermanfaat.

Manson tidak bermaksud memantik krisis paruh baya atau fakta bahwa ayah pemabuk pernah mencuri sepedanya saat ia berusia 8 tahun. Tapi saat itu terjadi, otak berkata ada masalah yang belum tersentuh. Emosi negatif adalah panggilan untuk bertindak—ketika merasakannya, karena seharusnya kita melakukan sesuatu. Emosi positif adalah imbalan atas tindakan tepat—dan seperti hal lain, emosi positif berlalu seiring datangnya masalah baru.

Emosi hanya sebagian dari persamaan, bukan seluruhnya. Hanya karena sesuatu terasa enak tak berarti baik; hanya karena tak enak bukan berarti buruk. Emosi hanya plang penunjuk jalan, anjuran neurobiologis, bukan perintah. Karenanya, sebaiknya kita tidak langsung memercayai emosi sendiri—malah membiasakan diri mempertanyakannya.

Ada orang yang diajari menekan emosi demi alasan pribadi, sosial, atau budaya—terutama emosi negatif. Menyangkal emosi negatif berarti menolak mekanisme umpan balik yang membantu penyelesaian masalah. Hasilnya, banyak individu tertekan berjuang menghadapi masalah sepanjang hidup. Jika tak bisa memecahkan masalah, tak bisa bahagia. Ada alasan di balik rasa sakit.

Di sisi lain, ada yang mengenali emosi secara berlebihan—membenarkan segalanya berdasarkan perasaan. "Saya memecahkan kaca depan mobilmu karena saya memang marah, tak bisa menahannya." "Saya keluar dari sekolah dan pindah ke Alaska karena rasanya keputusan tepat." Pengambilan keputusan berdasarkan intuisi emosional tanpa penalaran biasanya berantakan. Siapa yang menyandarkan seluruh hidup pada emosi? Balita. Dan anjing. Tahi di karpet.

Obsesi berlebihan pada emosi akan menggagalkan karena emosi tidak kekal. Apa pun yang membahagiakan hari ini tak akan membahagiakan esok, karena biologi kita butuh sesuatu yang lebih. Fiksasi pada kebahagiaan akan meminta kita tiada habis mengejar "sesuatu yang lain"—rumah baru, hubungan baru, tambahan anak, kenaikan gaji. Tak peduli seberapa keras jerih payah, kita akan bertemu perasaan menakutkan serupa: tidak cukup. Psikolog menyebut konsep ini "treadmill hedonis" (latihan di tempat yang berlari tanpa maju): kita bekerja keras mengubah situasi hidup, tapi sebenarnya tak pernah merasa sangat berbeda.

Inilah mengapa masalah selalu berulang dan tak terhindarkan. Orang yang Anda nikahi adalah yang dengan Anda beradu mulut. Rumah yang dibeli adalah yang Anda perbaiki. Pekerjaan idaman adalah yang membuat Anda stres. Setiap hal didapat melalui pengorbanan—apa yang membuat nyaman tak dapat disangkal juga akan membuat buruk. Apa yang kita dapatkan adalah apa yang kita lepaskan. Ini pil pahit yang sulit ditelan. Kita menyukai ide ada kebahagiaan yang akhirnya bisa dicapai, penderitaan bisa diringankan permanen, hidup bisa penuh dan puas selamanya. Tapi kita tak mampu.

Pilih Medan Juang

Manson mengajukan pertanyaan yang lebih mendasar. Jika ditanya "Apa yang ingin Anda raih dalam kehidupan ini?" dan jawabannya kira-kira "Saya ingin bahagia dan punya keluarga serta pekerjaan yang saya suka"—jawaban itu lazim dan tak bermakna. Setiap orang menikmati yang mengenakkan, jatuh cinta, seks, sempurna, berduit, populer, dihormati, jadi jagoan di lantai dansa. Mudah menginginkannya.

Pertanyaan yang lebih menarik, yang tak pernah disadari kebanyakan orang: "Rasa sakit apa yang ingin Anda tanggung dalam hidup Anda? Apa yang membuat Anda rela berjuang?" Ini tampak seperti faktor yang sangat menentukan jadinya apa hidup kita.

Contoh: kebanyakan orang ingin posisi puncak dan banyak uang—tapi tak banyak yang bersedia menderita 60 jam seminggu, perjalanan jauh, berkas yang memuakkan, dan menghadapi hierarki sewenang-wenang demi melarikan diri dari neraka kubikel. Hampir semua orang menginginkan seks memuaskan dan hubungan luar biasa, tapi tak setiap orang mau menjalani percakapan alot, keheningan menyiksa, perasaan tersakiti, dan psikodrama emosional. Mereka pikir lebih baik diam, dan selama bertahun-tahun gusar angan-angan "Seandainya saja..." hingga angan itu menjadi "Terus sekarang apa lagi?" sampai ketika pengacara pulang dan cek tunjangan perceraian ada di surel, pertanyaan menjadi "Untuk apa ini semua?" Jika bukan demi memenuhi standar dan harapan mediokret yang dibuat 20 tahun sebelumnya, lalu untuk apa?

Kebahagiaan butuh perjuangan. Kebahagiaan tumbuh dari masalah. Kegembiraan tak keluar dari tanah seperti bunga aster. Kepenuhan dan makna hidup yang serius harus diraih dengan memilih dan mengelola medan juang sendiri. Entah menderita karena cemas dan kesepian, gangguan kompulsif obsesif, atau bos brengsek—solusinya pada penerimaan dan keterlibatan aktif atas pengalaman negatif, bukan menghindar, bukan penyelamat yang datang.

Orang mendambakan fisik mengagumkan, tapi tak akan tercapai kecuali menghargai rasa sakit dan tekanan fisik di tempat kebugaran, rajin menghitung dan mengkalibrasi makanan, merencanakan hidup dalam porsi piring kecil. Orang ingin memulai bisnis sendiri, tapi tak akan jadi wirausahawan sukses kecuali mampu menghargai risiko, ketidakpastian, kegagalan berulang, investasi waktu gila-gilaan yang mungkin demi sesuatu yang tak menghasilkan apa-apa. Orang menginginkan pasangan hidup, tapi tak akan mampu menarik perhatian tanpa menghargai goncangan emosional penolakan, mengatur ketegangan seksual yang tak tersalurkan, menatap kosong telepon yang tak berdering. Inilah bagian dari permainan cinta—tidak akan pernah memenangkannya jika tak ikut bermain.

Yang menentukan kesuksesan bukan "Apa yang ingin Anda nikmati?" tapi "Rasa sakit apa yang ingin Anda tahan?" Jalan setapak menuju kebahagiaan penuh tangisan dan rasa malu. Anda harus menentukan pilihan—tak mungkin punya hidup bebas rasa sakit. Pertanyaan tentang kenikmatan mudah karena hampir semua orang punya jawaban serupa. Yang lebih menarik adalah pertanyaan tentang penderitaan. Derita apa yang ingin Anda hadapi? Inilah pertanyaan sulit yang perlu disadari, pertanyaan yang akan mengantar ke suatu tempat, yang membentuk pribadi kita dan membedakan kita.

Manson lalu bercerita tentang mimpinya menjadi rock star. Tiap mendengar gitar kencang, ia membayangkan di atas panggung, kerumunan teriak, orang lupa diri mendengar permainannya. Ia harus merencanakan—sekolah dulu, uang untuk peralatan, waktu luang, jaringan, proyek pertama. Meskipun terus memfantasi lebih dari separuh usianya, hasilnya tak pernah terwujud. Butuh waktu lama untuk tahu alasannya: ia tak benar-benar menginginkannya. Ia jatuh cinta pada hasil akhir, bukan prosesnya. Ia mencintai kemenangan, bukan perjuangan. Dan hidup tak berjalan seperti itu.

Siapa diri Anda sebenarnya ditentukan oleh apa yang ingin Anda perjuangkan. Orang yang menikmati perjuangan di gym adalah yang mengikuti triathlon dan punya bentuk badan seperti dipahat. Yang menikmati berminggu-minggu kerja panjang dan saling sikut di perusahaan adalah yang terbang melampaui hal-hal tersebut. Yang menikmati tekanan dan ketidakpastian seniman kelaparan adalah yang mampu menghidupi dan menjalaninya. Ini bukan soal kekuatan kehendak atau omong kosong keuletan. Ini juga bukan contoh "no pain, no gain" (tidak ada hasil tanpa perjuangan). Ini komponen paling sederhana dan mendasar: perjuangan kita menentukan kesuksesan kita. Permasalahan kita melahirkan kebahagiaan kita, seiring dengan masalah yang naik level, menjadi semakin baik. Ini spiral yang merambat ke atas tanpa pernah selesai. Jika masih berpikir boleh berhenti mendaki di titik mana pun, kegembiraannya justru terletak pada pendakian itu sendiri.

BAB 3: Anda Tidak Istimewa

Hancur Berantakan

Manson menceritakan autobiografinya: di usia 13 tahun, di kelas biologi pukul 09.00, ia bosan. Pak Price, kepala sekolah, mengetuk pintu dan memanggilnya. "Tolong antar Bapak ke lokermu." Pak Price menyitanya—mengambil jaket, tas olahraga, tas punggung—dan membawanya ke kantor. Di sana, dengan tenang menggeledah barang-barangnya. "Kamu tahu apa yang saya cari, Mark?" "Tidak." "Narkoba." Hampir jantungnya copot.

Dengan keringat membanjir, Manson gagap: "N-n-narkoba? Jenis apa?" Pak Price menatap tajam: "Saya tidak tahu; kamu punya jenis apa?" Setiap menit di zaman Paleolitik rasanya—waktu memanjang sendiri. Pak Price selesai memeriksa, membalikkan tas. Tidak ada apa-apa. Dia berkeringat, penuh amarah. "Tidak bawa narkoba hari ini, hah?" Manson: "Tidak." Pak Price memindai semua barang—tidak ada yang haram atau ilegal. Dia menghela napas, mengempaskan tas ke lantai, menatap dinding. "Mark, saya akan memberimu satu kesempatan terakhir. Jika jujur, semua akan lebih mudah. Jika berbohong, akan lebih buruk." Dengan nada membela, Manson menjawab: "Tidak, saya tidak punya narkoba. Saya sama sekali tidak tahu apa yang Bapak bicarakan."

Sebelum melepas, Pak Price menginjak ringan tas punggung yang kempes. Kaki berhenti pada sesuatu. "Apa ini?" Sontak ruangan kabur, semua berputar. Ketika masih muda, Manson memang pandai dan mudah berteman, tapi bengal—pemberontak, tukang bohong, gampang naik darah, penuh kebencian. Di usia 12, ia meretas sistem keamanan rumah dengan magnet lemari es agar bisa menyelinap keluar tengah malam. Bersama teman, ia memasukkan persneling mobil ibunya ke netral dan mendorong pelan-pelan ke jalan agar bisa mengendarai tanpa membangunkan siapa pun. Ia sengaja menulis esai tentang aborsi karena tahu guru Inggrisnya Kristen konservatif garis keras. Mencuri rokok ibunya dan menjual ke anak lain di belakang sekolah. Dan ia memotong bagian bawah tas punggung, menyulapnya menjadi kantong rahasia untuk menyembunyikan ganja.

Kantong tersembunyi itu yang ditemukan Pak Price. Beberapa jam kemudian, seperti kebanyakan anak 13 tahun yang diborgol di kursi belakang mobil polisi, Manson mengira hidupnya telah berakhir. Orang tua mengurung di rumah, tak boleh bertemu teman dalam waktu tak ditentukan. Sejak dikeluarkan dari sekolah, ia homeschool di sisa tahun ajaran. Ibu menyuruh potong rambut dan membuang semua baju Marilyn Manson dan Metallica—yang bagi remaja 1998, sama dengan dihukum mati dengan cara menyedihkan. Ayah menyeretnya ke kantor setiap pagi, memerintahkan memasukkan berkas berjam-jam. Setelah homeschool berakhir, dikirim ke sekolah Kristen swasta kecil—di mana ia tak kerasan. Dan tak lama setelah meluruskan jalan dan belajar nilai tanggung jawab Kristiani, orang tuanya memutuskan bercerai.

Manson menceritakan semua ini hanya untuk menunjukkan masa remajanya benar-benar seperti tahi. Kehilangan semua teman, komunitas, hak hukum, keluarga hanya dalam 9 bulan. Terapisnya di usia 20-an menyebut ini "pengalaman traumatis", dan ia menghabiskan 10 tahun ke depan bekerja keras menerima masa kelam itu, supaya tumbuh jadi orang yang tak terlampau depresif—meski masih tetap brengsek. Masalah rumah sama sekali bukan diakibatkan ucapan atau tindakan buruk; tapi karena semua hal buruk yang harusnya dikatakan atau dilakukan, namun tak terlaksana. Keluarga membina rumah tangga dengan cara yang sama seperti Warren Buffet menghasilkan uang atau cara Jenna Jameson menggeliat di ranjang: mereka juaranya. Bisa saja rumah terbakar habis dan mereka masih berkata, "Oh tidak, semua baik-baik saja. Sedikit hangat sih—tapi sungguh, semua baik-baik saja."

Saat orang tua bercerai, tidak ada piring pecah, tidak ada pintu dibanting, tidak ada teriakan. Mereka meyakinkan anak-anak ini sama sekali bukan kesalahan mereka—diberi sesi tanya jawab tentang logistik dan kesepakatan baru. Tidak ada tangis. Manson dan abangnya mencoba menguping pembicaraan, satu-satunya petunjuk yang terdengar jelas: "Tidak ada di antara kita yang selingkuh." Ruangan cuma sedikit hangat, tapi sungguh, tak ada yang terbakar.

Orang tuanya orang baik. Manson tidak menyalahkan mereka (tidak lagi). Ia sangat mencintai mereka. Mereka punya kisah sendiri, seperti semua orang tua, dan kemungkinan mewariskan sebagian masalahnya ke anak. Ketika "tetek bengek pengalaman traumatis" terjadi, secara tidak sadar kita mulai merasa seolah masalah tak pernah mampu diselesaikan. Asumsi ketidakmampuan ini membuat kita merasa sedih dan tak berdaya. Tapi ini juga mengakibatkan hal lain: jika punya masalah tak terselesaikan, alam bawah sadar tahu kita sebenarnya tidak istimewa atau gagal dalam arti tertentu—bahwa kita tak seperti orang lain dan beberapa aturan berlaku berbeda untuk kita. Alasannya sederhana: kita merasa istimewa.

Rasa sakit masa remaja menuntunnya ke jalan "keistimewaan" sepanjang dewasa awal. Seperti keistimewaan Jimmy bermain di kancah bisnis, keistimewaan Manson ada di dunia percintaan. Trauma membelit seputar keintiman dan penerimaan, jadi ia merasa perlu mendapatkan kasih sayang berlebihan—membuktikan pada diri sendiri bahwa ia dicintai dan diterima setiap saat. Dampaknya, ia mengejar perempuan seperti pemadat mengejar boneka salju kokain. Bercinta dengan panas, langsung tercekik. Ia jadi buaya darat—tak dewasa, egois, kadang berkarisma. Rangkaian panjang hubungan dangkal dan tidak sehat selama hampir 10 tahun. Yang ia cari adalah peneguhan—bahwa diinginkan, dicintai, dianggap berharga. Kebutuhan itu menjelma kebiasaan mental mengistimewakan dan melebih-lebihkan diri sendiri. Merasa berhak mengatakan atau melakukan apa pun, menghancurkan kepercayaan seseorang, mengabaikan perasaan, lalu memperbaikinya dengan permintaan maaf kosong.

Meskipun periode ini punya momen menyenangkan dan ia berjumpa beberapa wanita luar biasa, seluruh hidupnya kurang lebih hancur seperti puing. Sering tak punya pekerjaan, numpang tidur di sofa teman atau tinggal dengan ibu, minum lebih dari seharusnya, menyingkirkan beberapa teman—dan saat bertemu wanita yang sangat disukai, sikap egoisnya cepat meluluhlantakkan semuanya.

Tirani Keistimewaan

Untuk memahami fenomena "orang biasa yang merasa istimewa", Manson memperkenalkan Jimmy—pria yang selalu beredar, menyala-nyala, menyebut nama perusahaan konsultasi, aplikasi kesehatan, acara amal, pompa gas efisien yang membuatnya miliarder. Jimmy adalah "go-getter tulen" (pelaku ulung) versi paling norak. Di balik itu semua, Jimmy adalah bajingan—hanya bicara, tidak ada aksi. Sebagian besar waktunya diisi mabuk-mabukan, menghamburkan uang di bar, berusaha memukau orang dengan "ide bisnis". Jimmy penipu profesional, menghidupi keluarga dengan uang haram, memutar ide palsu tentang gemilang teknologi masa depan. Kadang ia juga berupaya atau mengangkat telepon membuat tawaran mengatasnamakan orang penting, tapi tak satu pun "usahanya" berkembang.

Meskipun demikian, Jimmy melakukannya bertahun-tahun, membiayai pacar dengan uang dari banyak saudara jauhnya hingga usia kepala tiga. Kepercayaan dirinya tak lebih waham dalam otaknya. Ia menyayangkan orang yang menertawakan atau menutup telepon, sebab dalam pikirannya mereka "telah melewatkan kesempatan emas". Yang mencemooh "terlalu bodoh dan tidak berpengalaman" memahami kejeniusannya. Yang menuding gaya hidup mabuk "cemburu"; mereka "haters" yang iri. Jimmy memang menghasilkan uang, meski biasanya cara tidak jujur: menjual ide bisnis orang lain yang diakui sebagai miliknya, memperdaya memberi pinjaman, atau menghasut seseorang menyerahkan saham start-up. Sesekali ia dibayar public speaking—mengenai apa, Manson bahkan tak berani membayangkan.

Bagian paling parahnya: Jimmy meyakini omong kosongnya sendiri. Khayalannya antipeluru, orang sulit marah padanya—justru terkagum. Di era 1960-an, meningkatkan "penghargaan diri" sangat ngetren di psikologi. Penelitian menemukan orang yang menilai diri tinggi menunjukkan kinerja lebih baik dan membuat lebih sedikit masalah. Banyak peneliti dan pembuat kebijakan yakin meningkatnya penghargaan diri penduduk dapat menuntun pada keuntungan sosial nyata: kejahatan menurun, catatan akademik membaik, lapangan kerja luas, defisit anggaran rendah. Hasilnya, di awal 1970-an, praktik penghargaan diri diajarkan orang tua, ditekankan terapis, politisi, guru, dilembagakan dalam kurikulum. "Grade inflation" (pemongkokan nilai) diselenggarakan agar anak berprestasi kurang tak terlalu kecewa. Trofi palsu diciptakan untuk kegiatan yang mudah ditebak. Anak-anak diberi PR konyol: menulis alasan mengapa mereka istimewa, 5 hal paling disukai tentang diri sendiri. Pastor dan pendeta meyakinkan jemaat bahwa setiap istimewa di hadapan Tuhan. Seminar bisnis mengulang mantra: setiap dari kita bisa jadi luar biasa dan teramat sukses.

Generasi berikutnya terbaca data: tidak ada dari kita yang istimewa. Sekadar merasa bahagia atas diri sendiri tak berarti apa-apa kecuali punya alasan bagus untuk itu. Kemalangan dan kegagalan berguna dan bahkan diperlukan untuk membangun orang dewasa yang tangguh dan sukses. Faktanya, mengajar orang meyakini mereka istimewa tidak menciptakan populasi penuh Bill Gates dan Martin Luther King—melainkan populasi penuh pria seperti Jimmy: pendiri perusahaan terbuai delusi, menghisap ganja setiap hari, tanpa ketrampilan menjual selain bicara pada diri sendiri, meneriaki rekan kerja karena "kurang dewasa", menggunakan kartu kredit perusahaan hingga batas maksimal di Le Bernardin demi membuat model Rusia terkesan, dijauhi bibi dan paman karena terus pinjam uang.

Jimmy yang percaya diri dan punya penghargaan diri tinggi—yang menghabiskan banyak waktu berbicara betapa baiknya dia sehingga lupa benar-benar melakukan sesuatu. Masalah gerakan peningkatan penghargaan diri: ukuran yang digunakan berdasar seberapa positif orang melihat diri sendiri. Ukuran yang benar dan akurat sebenarnya terletak pada bagaimana orang memahami aspek negatif diri mereka sendiri. Jika Jimmy merasa sungguh baik selama 99,9 persen hidupnya meskipun hidupnya hancur berantakan, bagaimana itu bisa jadi alat ukur valid untuk hidup sukses dan bahagia?

Jimmy merasa istimewa—layak mendapatkan hal baik tanpa berusaha. Percaya diri bisa jadi kaya tanpa bekerja. Bisa disukai dan menjalin hubungan baik tanpa pernah membantu siapa pun. Berhak punya gaya hidup luar biasa tanpa mengorbankan apa pun. Orang-orang seperti Jimmy terpaku pada perasaan nyaman karena berhasil mengelabui diri sendiri hingga yakin sedang menyelesaikan hal-hal besar. Yakin pembawa acara brilian di atas panggung padahal sedang membodohi diri sendiri. Menamai diri motivator dan menggalang dana untuk membantu sesama walau masih 25 tahun dan belum pernah melakukan hal mendasar.

Kepercayaan diri di level delusional (khayalan) bisa menarik orang lain, setidaknya sementara. Orang dengan tingkat kepercayaan diri seperti ini dapat menulari dan membantu orang sekitar merasa lebih percaya diri. Di luar semua tipuan Jimmy, Manson mengakui kadang menyenangkan bergaul dengannya—Anda merasa tak bisa dikalahkan saat di dekatnya. Tapi persoalan model kepercayaan diri semacam ini: membuat mereka perlu selalu merasa bahagia atas diri sendiri walau harus membuat orang sekitar terganggu. Karena harus selalu merasa bahagia, mereka menghabiskan sebagian besar waktu hanya untuk berpikir tentang diri sendiri. Padahal dibutuhkan energi besar untuk meyakinkan diri bahwa tahi yang Anda keluarkan tidak bau busuk, apalagi jika benar-benar tinggal di kakus.

Begitu pola pikir yang secara konstan menafsirkan segala sesuatu untuk membuat makin jemawa berkembang, super-sulit menghentikan. Setiap ajakan menggunakan akal sehat dipandang sebagai "ancaman" terhadap superioritas mereka dari pihak lain yang "tidak dapat mengimbangi" kepintaran/bakat/kegantengan/kesuksesan. Yang diyakini Jimmy dan orang sepertinya menyelubungi mereka dengan gelembung narsistik, membelokkan apa saja demi meneguhkan diri. Orang-orang yang merasa seperti ini memandang setiap kejadian entah sebagai peneguhan atau ancaman terhadap keagungan sendiri. Jika hal baik terjadi, itu karena perbuatan mereka. Jika hal buruk, itu karena seseorang cemburu. Mereka bengkal, menyesatkan diri sendiri dengan masuk ke apa pun yang memuaskan rasa superioritas, mempertahankan pandangan mental di atas segalanya—bahkan jika kadang menuntut bersikap kasar secara fisik atau emosional terhadap orang sekitar.

Meyakinkan diri sebagai makhluk spesial adalah strategi yang gagal—hanya membuat "tinggi"/nge-fly. Tapi itu bukan kebahagiaan. Pengukuran benar tentang penghargaan diri bukan pada bagaimana merasakan pengalaman positif, tapi bagaimana merasakan pengalaman negatif. Jimmy bersembunyi dari permasalahannya dengan mengarang kesuksesan sendiri di setiap kesempatan. Karena tak bisa menghadapi masalah, sebaik apa pun menilai diri sendiri, ia menjadi lemah.

Seseorang yang benar-benar punya penghargaan diri tinggi mampu melihat bagian negatif pribadinya secara blak-blakan—"Ya, kadang saya tidak bertanggung jawab soal uang", "Benar, kadang saya melebih-lebihkan kesuksesan", "Ya, saya terlalu bersandar pada orang lain dan seharusnya lebih mandiri"—kemudian bertindak memperbaikinya. Yang keblinger dengan diri sendiri, karena tak mampu mengakui masalah secara terbuka dan jujur, justru tak bisa memperbaiki hidup dengan cara yang tahan lama atau bermakna. Mereka semakin tertinggal karena mengejar hal yang bertambah tinggi dan mengakumulasi tingkat penyangkalan yang semakin besar. Pada akhirnya, kenyataan akan menghantam, dan masalah mendasar akan menampakkan diri lagi—kali ini dengan lebih jernih. Ini hanya perkara kapan, dan seberapa sakit itu nantinya.

T-t-t-t-tapi Jika Saya Tidak Istimewa

Meyakinkan diri sebagai makhluk spesial ternyata merupakan strategi yang gagal. Semakin dalam rasa sakit, semakin kita merasa tak berdaya menghadapi permasalahan, semakin banyak keistimewaan yang kita perlukan sebagai kompensasi. Keistimewaan ini bekerja dalam dua cara: pertama, "Saya luar biasa dan kalian semua payah, jadi saya berhak mendapatkan perlakuan istimewa." Kedua, "Saya payah dan kalian semua luar biasa, jadi saya berhak mendapatkan perlakuan istimewa." Jalan pikir keduanya berlawanan, tapi inti keegoisannya sama. Sering orang bergantian menerapkan yang pertama atau kedua—tergantung mereka sedang di atas atau di bawah roda nasib, atau seberapa baik mengatasi kecanduan saat itu.

Sebagian besar orang tepat mengidentifikasi Jimmy sebagai narsis yang haus perhatian—karena dia terang-terangan masuk dalam penghargaan diri delusional. Tapi yang keliru diidentifikasi kebanyakan orang: dia terus-menerus merasa rendah diri dan tidak berharga. Sebab, upaya merancang kehidupan yang menampilkan Anda sebagai korban serba lemah menuntut keegoisan sama besar untuk motif sebaliknya. Butuh kepongahan delusional dan energi sama besar—baik untuk memelihara keyakinan punya segunung masalah yang tak dapat diurai maupun untuk meyakini dirinya tanpa cela sama sekali.

Sejatinya, tidak ada yang disebut masalah pribadi (personal problem). Jika punya masalah, ada peluang jutaan orang lain juga memilikinya—dulu, sekarang, atau esok. Kesadaran ini tak mengurangi masalah atau membuat rasa sakit hilang. Juga bukan berarti bukan korban. Ini hanya mau mengatakan: Anda tidak istimewa. Seringkali, inilah kesadaran yang harus diambil—bahwa siapa Anda dan apa masalah Anda bukan sesuatu yang istimewa di mata jutaan orang yang saat ini, sebelumnya, maupun esok akan menderita—sebagai langkah pertama dan terpenting untuk menyelesaikan masalah tersebut.

Tapi entah kenapa, semakin banyak orang, terutama anak muda, melupakan hal ini. Beberapa profesor dan pendidik menengarai kurangnya ketahanan emosional dan terlalu dominannya kebutuhan egois di kalangan kaum muda. Sangat umum praktik ditariknya buku dari kelas hanya karena alasan buku itu akan membuat seseorang merasa buruk. Pembicara dan professor diteriaki turun dan dicekal di kampus atas tuduhan penistaan, padahal hal remeh—sesepele orang yang memberi opini bahwa mungkin beberapa kostum Halloween tak seofensif yang orang kira. Penasihat sekolah menengarai saat ini lebih banyak siswa dibanding sebelumnya yang menunjukkan tanda stres atas pengalaman sehari-hari yang sebenarnya wajar—pertiengkaran teman sekamar, atau nilai rendah di kelas.

Aneh pada usia di mana seharusnya lebih terikat satu sama lain, keistimewaan selalu tampak berada di atas segalanya. Suatu aspek teknologi terkini membolehkan rasa ketidaknyamanan kita untuk bikin onar pertama kalinya. Semakin banyak kebebasan mengekspresikan diri, kita semakin ingin terbebas dari urusan dengan siapa pun yang mungkin tak sependapat atau yang membuat jengkel. Semakin dihadapkan pada sudut pandang berlawanan, semakin naik pitam. Semakin hidup mudah dan bebas masalah, kita semakin merasa berhak mendapatkan yang lebih baik lagi.

Manfaat Internet dan media sosial tak perlu dibantah—mungkin ini momen terbaik dalam sejarah kehidupan. Tapi mungkin teknologi ini juga punya efek samping sosial yang tak diinginkan—membuat orang merajuk untuk meminta lebih diistimewakan. Keyakinan bahwa kita semua ditakdirkan menjadi sesuatu yang sungguh luar biasa telah menjadi bagian budaya yang kita anut. Pesohor mengatakannya, taipan bisnis mengatakannya, politisi mengatakannya, bahkan Oprah mengatakannya (jadi ini pasti benar). Semua orang dan setiap dari kita bisa menjadi luar biasa. Kita semua berhak menerima suatu keagungan.

Fakta bahwa pernyataan ini secara inheren kontradiktif—jika setiap orang luar biasa, artinya tak seorang pun yang luar biasa—luput dari perhatian kebanyakan orang. Alih-alih menanyakan apa yang sesungguhnya bisa dan tak bisa kita raih, kita telan mentah-mentah pesan tersebut dan masih meminta lebih. Menjadi "rata-rata" dianggap standar baru kegagalan. Hal paling buruk yang Anda hadapi adalah berada di tengah-tengah kawanan, di tengah-tengah kurva lonceng. Saat standar kesuksesan budaya adalah "menjadi luar biasa", akan lebih baik berada di sudut bawah kurva lonceng—karena di sana minimal masih dianggap istimewa dan berhak menerima perhatian. Banyak orang memilih strategi ini: membuktikan bahwa merekalah yang paling menderita, paling tertindas, paling jadi korban.

Banyak orang takut menerima diri mereka yang sedang-sedang saja karena yakin jika menerima, mereka tak akan pernah mencapai apa-apa, tak pernah berubah jadi lebih baik, hidup tak akan memiliki arti. Pemikiran semacam ini berbahaya. Begitu Anda menerima premis bahwa kehidupan akan berharga hanya jika benar-benar penting dan besar, maka pada dasarnya Anda menerima fakta bahwa sebagian besar populasi manusia (termasuk Anda) payah dan tidak berharga. Pola pikir ini dapat dengan cepat berubah menjadi bencana, baik bagi Anda sendiri maupun orang lain.

Segelintir orang yang berhasil menjadi unggul di suatu bidang, meraih posisi tersebut bukan karena mereka meyakini diri mereka istimewa. Sebaliknya, mereka menjadi luar biasa karena terobsesi dengan perbaikan. Obsesi ini berasal dari keyakinan yang tak pernah salah bahwa mereka, dalam kenyataan, sama sekali tidak istimewa. Ini anti-istimewa. Orang-orang yang hebat dalam suatu hal, menjadi hebat karena mengerti bahwa mereka belum benar-benar luar biasa—mereka biasa saja, masuk golongan rata-rata—dan bahwa mereka bisa menjadi jauh lebih baik.

Segala nasihat tentang "setiap orang bisa menjadi luar biasa dan meraih kesuksesan besar" pada dasarnya hanyalah menyenangkan-nyenangkan ego. Pesan yang membuat Anda merasa enak dan lega, tapi kenyataannya ibarat kalori yang membuat Anda secara emosional gemuk dan membengkak, seperti Big Mac untuk jiwa dan benak. Tiket meraih kesehatan emosional, sama dengan kesehatan fisik, datang dari sayur-sayuran yang Anda makan—menerima kebenaran hidup yang hambar dan biasa: kebenaran seperti "Tindakan Anda sebenarnya tidak berarti banyak dalam keseluruhan perjalanan sejarah" dan "Sebagian besar hidup Anda akan berjalan membosankan dan tidak berharga, dan itu wajar." Resep sayuran ini akan terasa pahit awalnya, sangat tidak enak, Anda akan berusaha menghindarinya. Namun sekali tercerna, tubuh akan terbangun dengan perasaan lebih kokoh dan lebih hidup. Tekanan yang sebelumnya akan berubah menjadi sesuatu yang menopang Anda untuk berdiri tegak. Tekanan dan kecemasan karena selalu merasa tidak cukup dan terus-menerus perlu membuktikan pada diri sendiri akan menghilang. Pengetahuan dan penerimaan terhadap eksistensi Anda yang sedang-sedang saja akan benar-benar membebaskan Anda untuk menuntaskan apa yang sungguh ingin Anda selesaikan, tanpa penilaian atau ekspektasi yang muluk-muluk.

Anda akan mampu mengapresiasi pengalaman sederhana di hidup Anda: nikmatnya pertemanan simpel, menciptakan sesuatu, membantu seseorang yang membutuhkan, membaca buku bagus, tertawa bersama seseorang yang Anda sayangi. Terdengar membosankan, bukan? Mungkin karena hal-hal semacam ini biasa saja. Namun juga mungkin karena satu alasan: itulah yang benar-benar berarti.

BAB 4: Nilai Penderitaan

Bawang Kesadaran Diri

Mark Manson membuka bab ini dengan kisah Letnan Dua Hiroo Onoda, tentara Jepang yang dikirim ke Pulau Lubang, Filipina, pada Desember 1944 dengan misi bunuh diri untuk memperlambat gerak tentara AS. Setelah Jepang menyerah bulan Agustus 1945, Onoda menolak percaya selebaran pengumuman berakhirnya perang—ia menganggapnya tipu daya Amerika. Selama hampir 30 tahun, ia menembaki petani, membakar tanaman, dan membunuh penduduk lokal dari hutan. Pada 1972, setelah anak buahnya tewas, pemuda hippie Norio Suzuki menemukannya dalam empat hari dengan cara meneriakkan namanya dan menyampaikan bahwa kaisar mencemaskannya. Onoda bertahan bukan karena pamrih besar, melainkan hanya karena satu perintah sederhana: "jangan menyerah." Keduanya adalah Don Quixote dan Sancho Panza dalam kehidupan nyata—sama-sama mengejar kemenangan khayal, Onoda demi kekaisaran yang sudah musnah, Suzuki demi petualangan (ia kemudian meninggal di Himalaya demi mencari Yeti). Onoda kembali ke Jepang pada 1974 dan mendapati Jepang sudah menjadi bangsa konsumtif yang kehilangan nilai kehormatan. Ironi terbesarnya: ia jauh lebih tertekan di Jepang modern daripada di hutan selama puluhan tahun, karena di hutan penderitaannya bermakna, sedangkan sekembalinya ia menyadari 30 tahun hidupnya terbuang percuma. Pada 1980, Onoda pindah ke Brasil.

Dengan menggunakan metafora bawang, Manson menjelaskan tiga lapisan kesadaran diri. Lapisan pertama adalah kemampuan mengenali emosi dasar: "inilah saat saya senang, ini yang membuat saya sedih." Banyak orang, termasuk dirinya sendiri, masih lemah pada level ini. Lapisan kedua adalah kemampuan bertanya "mengapa" kita merasakan emosi tertentu—mengapa marah, mengapa lesu—sehingga kita menemukan akar masalah. Lapisan ketiga adalah bertanya: "Mengapa saya menganggap ini sebagai sukses atau gagal?" Di sinilah bawang membuat kita menangis, karena di lapisan ini tersimpan nilai-nilai yang kita pegang, dan nilai itulah yang menentukan hakikat masalah dan kualitas hidup kita. Nilai-nilai yang dipilih gegabah akan merusak pikiran, emosi, dan perasaan kita. Kebanyakan motivator mengabaikan lapisan ketiga ini; mereka membantu orang merasa baik dalam jangka pendek tanpa pernah menyelesaikan masalah jangka panjang. Proses menggali lebih dalam—seperti contoh kemarahan Manson karena abangnya tidak membalas SMS—membongkar nilai yang tersembunyi: "saudara harus punya hubungan baik", "keluarga harus didahulukan", "memiliki hubungan dekat dengan keluarga adalah normal dan sehat." Ketika kita sadar bahwa situasi objektif tidak sepenting cara kita memandangnya, kita mulai mengendalikan makna di balik masalah.

Problem Bintang Rock

Manson menggunakan dua kisah gitaris yang dipecat dari band legendaris untuk menggambarkan bagaimana nilai yang kita pilih menentukan ukuran sukses/gagal kita, dan ukuran itulah yang menyiksa kita. Dave Mustaine adalah gitaris berusia 23 tahun yang dikeluarkan dari Metallica pada 1983 dengan cara yang sangat kasar—dibangunkan dan diberi tiket bus pulang. Dalam perjalanan dari New York ke Los Angeles, kemarahannya membakar ambisi: ia akan membentuk band yang jauh lebih sukses agar Metallica menyesal seumur hidup. Hasilnya: Megadeth, band heavy metal yang telah menjual lebih dari 25 juta album. Namun dalam wawancara langka tahun 2003, Mustaine yang berlinang air mata mengaku masih merasa dirinya gagal. Ia mengukur hidupnya dengan standar "lebih sukses dan terkenal daripada Metallica"—dan standar itulah yang terus menyiksanya puluhan tahun kemudian, meskipun ia memiliki jutaan dolar dan ratusan ribu penggemar.

Kontrasnya adalah Pete Best, drummer Beatles yang dipecat secara diam-diam tiga hari sebelum rekaman pertama mereka pada 1962, ketika John, Paul, dan George bersekongkol dengan manajer Brian Epstein. Penggantinya, Ringo Starr, lebih tua, hidung besar, dan potongan rambut jelek. Best jatuh ke dalam depresi, minum-minum, menuntut anggota Beatles pada 1965 atas tuduhan pemfitnahan, dan bahkan mencoba bunuh diri pada 1968. Hidupnya tampak hancur. Namun dalam wawancara 1994, Best berkata, "Saya lebih bahagia sekarang, dibanding jika saya masih bertahan di Beatles." Nilai-nilainya berubah. Ia mengukur hidupnya secara berbeda. Ketenaran dan nama besar memang menyenangkan, tapi keluarga yang hangat, pernikahan yang stabil, dan hidup sederhana jauh lebih berharga. Ia bahkan masih sempat bermain drum dan merekam album hingga 2000-an.

Inti dari dua kisah ini: nilai yang kita pegang menentukan ukuran yang kita pakai menilai diri sendiri. Standar Mustaine, "lebih sukses dari Metallica", memberikan masalah yang mustahil dipecahkan. Standar Best, "keluarga dan kehidupan sederhana", menghasilkan masalah rutin yang mudah diselesaikan. Kita semua adalah kera yang mengukur diri berdasarkan pencapaian orang lain. Jika ingin mengubah cara memandang masalah, kita harus mengubah nilai yang dipegang dan/atau cara kita mengukur sukses/gagal.

Nilai-Nilai Sampah

Manson mengidentifikasi empat nilai umum yang menimbulkan masalah sangat buruk bagi banyak orang. Pertama, kenikmatan. Kenikmatan memang penting dan memang menyenangkan, namun jika dijadikan prioritas hidup, ia menjadi tuhan palsu. Penelitian menunjukkan orang yang memfokuskan energi pada kenikmatan berakhir lebih cemas, tidak stabil secara emosional, dan tertekan. Kenikmatan adalah bentuk kepuasan hidup paling dangkal—mudah diraih dan mudah hilang. Ia penting dalam kehidupan, tapi secara esensial tidak mencukupi. Kenikmatan seharusnya adalah akibat, bukan sebab: jika kita melakukan hal-hal lain dengan benar, kenikmatan akan muncul dengan sendirinya.

Kedua, kesuksesan material. Banyak orang mengukur martabat berdasarkan penghasilan, mobil, atau seberapa hijau rumput halaman dibanding tetangga. Penelitian menunjukkan bahwa begitu seseorang mampu memenuhi kebutuhan dasar, korelasi antara kebahagiaan dan kesuksesan duniawi mendekati nol. Masalah lain yang muncul: ketika penilaian terhadap kesuksesan material terlalu berlebihan, orang cenderung meletakkannya di atas nilai lain seperti kejujuran, anti-kekerasan, dan kasih sayang. Mereka menjadi orang yang bukan hanya dangkal, tapi juga "orang-orang bangsat".

Ketiga, selalu benar. Otak kita adalah mesin yang tidak efektif—konsisten membuat asumsi buruk, peluang keliru, ingatan salah, bias kognitif, dan keputusan berdasarkan gejolak emosi. Jika ukuran sukses hidup kita adalah "menjadi benar", maka kita akan kerepotan merasionalisasi semua kekeliruan. Orang yang mendasarkan penghargaan diri pada ambisi untuk selalu benar menghalangi dirinya belajar dari kesalahan, kurang mampu berempati, dan menutup diri terhadap informasi baru. Lebih membantu jika kita mengasumsikan diri tidak tahu banyak—ini menjaga kita dari tahayul dan membuat kita tetap dalam posisi untuk terus belajar.

Keempat, tetap positif. Manson mencemooh pendekatan "setiap kejadian buruk pasti ada hikmahnya" dengan contoh-contoh absurd: suami selingkuh dengan saudari Anda, anak sekarat karena kanker tenggorokan—semua "setidaknya...". Pengingkaran terhadap emosi negatif menuntun kita pada emosi negatif yang lebih dalam dan disfungsi emosional. Terus-menerus bersikap positif adalah bentuk pengelakan, bukan penyelesaian masalah. Emosi negatif adalah komponen kesehatan emosional yang harus ada. Triknya: ekspresikan emosi negatif dengan cara yang diterima secara sosial dan selaras dengan nilai-nilai kita. Kemarahan itu alami dan sehat; yang jadi masalah adalah memukul seseorang di muka, bukan kemarahan itu sendiri. Freud pernah berkata, "Suatu hari, ketika kita mengingat masa lalu, tahun-tahun yang penuh jerih payah akan berubah menjadi tahun-tahun yang paling indah." Membangun bisnis dengan teman-teman, membesarkan anak, menuntaskan maraton—semuanya lebih membahagiakan daripada membeli komputer baru. Empat nilai sampah ini merupakan idealisme buruk karena sebagian momen terbesar manusia tidak menyenangkan, tidak sukses, tidak dikenal, dan tidak positif.

Menentukan Nilai yang Baik dan Buruk

Manson merumuskan kriteria yang jelas. Nilai-nilai yang baik: berdasarkan kenyataan, membangun secara sosial, dan segera serta dapat dikendalikan. Nilai-nilai yang buruk: tahayul, merusak secara sosial, dan tidak segera serta tidak dapat dikendalikan. Kejujuran adalah nilai yang baik karena sepenuhnya bisa dikendalikan, mencerminkan kenyataan, dan bermanfaat bagi orang lain. Popularitas adalah nilai buruk karena begitu banyak faktor di luar kendali kita—siapa yang datang ke pesta, siapa yang menilai kita—dan tidak ada petujuk nyata tentang apa yang dipikirkan orang lain. Orang yang takut pada pendapat orang lain sebenarnya takut bahwa semua hal buruk yang mereka pikirkan tentang diri mereka akan terbukti.

Contoh nilai baik dan sehat: kejujuran, inovasi, kepekaan, membela diri sendiri, membela orang lain, penghargaan diri, rasa ingin tahu, amal, kerendahan hati, kreativitas. Contoh nilai buruk: dominasi melalui manipulasi atau kekerasan, gonta-ganti pasangan, senantiasa merasa senang, selalu menjadi pusat perhatian, tidak mau kesepian, disenangi semua orang, menjadi kaya demi menjadi kaya, mengorbankan hewan kecil untuk dewa pagan. Nilai baik biasanya bersandar secara internal—kreativitas atau kerendahan hati bisa dialami saat ini juga, cukup dengan mengarahkan benak. Nilai buruk biasanya bersandar pada peristiwa eksternal—jet pribadi, rumah di Bahama, cannoli dengan penari—yang berada di luar kendali.

Nilai adalah tentang membuat prioritas. Semua orang ingin cannoli lezat atau rumah di Bahama, pertanyaannya adalah prioritas apa yang di atas yang lain. Onoda memprioritaskan kesetiaan pada kekaisaran Jepang, sebuah nilai yang busuk—ia terjebak 30 tahun di pulau terpencil, makan serangga, membunuh penduduk tidak bersalah. Mustaine memprioritaskan "lebih sukses dari Metallica"—nilai yang membuatnya sangat sukses namun tidak bahagia. Pete Best belajar mengubah prioritasnya menjadi keluarga, pernikahan stabil, dan hidup sederhana—ia tumbuh menjadi pria sehat dan bahagia dengan kehidupan yang justru diidam-idamkan anggota Beatles dekade demi dekade. Singkatnya, "self-improvement" yang sesungguhnya adalah memprioritaskan nilai yang lebih baik, memilih hal yang lebih baik untuk dipedulikan. Karena ketika kita peduli pada hal yang lebih baik, kita mendapat masalah yang lebih baik, dan menjalani kehidupan yang lebih baik.

Manson menutup bab dengan mengumumkan lima nilai rasional yang akan dibahas di bab-bab selanjutnya—semua mengikuti "hukum kebalikan" yang terasa "negatif" dan tidak membuat nyaman, tapi mengubah kehidupan: (1) tanggung jawab radikal atas segala hal yang terjadi, (2) ketidakpastian, (3) kegagalan, (4) penolakan, dan (5) perenungan tentang kematian.

BAB 5: Anda Selalu Memilih

Pilihan

Manson membuka dengan analogi kuat. Bayangkan seseorang menempelkan pistol di kepala Anda dan menyuruh Anda lari maraton 26,2 mil dalam lima jam atau keluarga Anda dibunuh—itu mengerikan. Sekarang bayangkan Anda membeli sepatu bagus, berlatih berbulan-bulan, dan menyelesaikan maraton dengan sorak-sorai keluarga di garis finis—salah satu momen paling membanggakan dalam hidup. Jarak sama, pelari sama, rasa sakit sama. Satu-satunya perbedaan adalah pilihan dan tanggung jawab. Sering kali, apakah suatu masalah terasa menyakitkan atau menguatkan ditentukan oleh apakah kita memilihnya.

Kisah William James menjadi ilustrasi utama. Lahir dari keluarga kaya dan terpandang, James kecil menderita masalah kesehatan seumur hidup: mata yang membuatnya buta temporer, kondisi perut yang memaksanya diet super ketat, gangguan pendengaran, dan kejang urat punggung yang membuatnya tak bisa duduk atau berdiri berhari-hari. Ia menghabiskan waktu di rumah melukis, satu-satunya kemahirannya. Namun tidak ada yang mengakui bakatnya, ayahnya mengolok-oloknya, dan adiknya Henry menjadi novelis terkenal. Sang ayah menggunakan koneksi untuk memasukkannya ke Harvard Medical School sebagai kesempatan terakhir. James merasa seperti penipu; setelah berkeliling fasilitas psikiatris, ia menulis di buku hariannya bahwa ia merasa lebih menyerupai pasien daripada dokter. Tanpa persetujuan ayah, ia keluar dari kedokteran dan ikut ekspedisi antropologi ke Amazon—di sana ia terkena cacar air, kejang punggung kumat, kurus kering, ditinggal sendiri di tengah Amerika Selatan. Setibanya di New England, ayahnya makin kecewa, dan James jatuh depresi berat, mulai berencana mengakhiri hidup.

Suatu malam sambil membaca tulisan filsuf Charles Peirce, James melakukan eksperimen kecil: selama setahun, ia akan berusaha meyakini bahwa ia bertanggung jawab 100 persen atas segala hal yang terjadi dalam hidupnya, apa pun itu. Jika tidak ada yang membaik, ia akan menganggap dirinya memang tidak punya daya apa-apa dan mengakhiri hidup. Hasilnya: William James menjadi bapak psikologi Amerika, karyanya diterjemahkan ke banyak bahasa, dihormati sebagai salah satu cendekiawan paling berpengaruh, mengajar di Harvard, menikah, punya lima anak, dan menyebut eksperimennya itu sebagai "lahir kembali".

Pertumbuhan pribadi selalu bermuara pada kesadaran sederhana: kita secara pribadi bertanggung jawab atas segala hal dalam hidup, tak peduli kondisi luar diri kita. Kita tak selalu bisa mengendalikan apa yang terjadi, tapi selalu bisa mengendalikan cara kita menafsirkan dan merespons. Bahkan memilih untuk tidak menafsirkan peristiwa adalah sebuah penafsiran; memilih tidak merespons tetaplah sebuah respons. Kita selalu menjatuhkan pilihan, entah kita sadari atau tidak. Pertanyaan sesungguhnya bukan apakah kita memedulikan sesuatu—karena tidak memedulikan apa pun tetap saja bentuk kepedulian—tetapi apa yang kita pilih untuk dipedulikan, nilai apa yang kita pilih sebagai dasar tindakan, dan ukuran apa yang kita pakai sebagai pengukur kehidupan.

Salah Kaprah Tanggung Jawab/Rasa Salah

Manson membuka dengan anekdot blog: ia mengutip "Kekuatan yang besar menuntut tanggung jawab yang besar"以为是 seorang filsuf, ternyata itu Paman Ben di film Spider-Man. Versi yang lebih baik, katanya, justru menukar posisi: "Tanggung jawab yang besar menuntut kekuatan yang besar." Semakin kita memilih menerima tanggung jawab, semakin besar kekuatan yang dibutuhkan.

Ia menceritakan pria yang percaya alasan tidak ada wanita mau berkencan dengannya adalah karena ia terlalu pendek—terpelajar, menarik, tampan, tapi meyakini keyakinan itu dengan kuat hingga nyaris tidak pernah keluar mencoba. Ia tidak sadar bahwa ia telah memilih nilai yang menyakiti dirinya sendiri: tinggi badan. Tanda disadari, ia sesungguhnya bertanggung jawab atas masalahnya. Alih-alih bertanggung jawab, ia mengeluh, "Saya tidak punya pilihan, wanita itu berpikiran dangkal." Banyak orang enggan bertanggung jawab karena percaya bahwa mengambil tanggung jawab sama dengan disalahkan. Tapi tanggung jawab dan kesalahan tidak sama. Kesalahan adalah bentuk lampau—akibat pilihan yang sudah diambil. Tanggung jawab adalah bentuk kini—akibat pilihan yang sedang Anda ambil setiap detik, setiap hari. Anda sedang memilih membaca buku ini. Anda sedang memilih menerima atau menolak konsep ini. Jika menurut Anda idenya payah, itu kesalahan Manson, tapi Anda bertanggung jawab atas kesimpulan yang Anda ambil. Tidak ada seorang pun yang bertanggung jawab atas keadaan Anda kecuali diri Anda sendiri; banyak orang mungkin disalahkan atas ketidakbahagiaan Anda, tapi tak seorang pun bertanggung jawab selain Anda.

Manson menceritakan pengalaman pribadinya: pacar pertama meninggalkannya dengan cara spektakuler—berselingkuh dengan gurunya, lalu minta putus dan langsung "nempel" ke pelukan guru itu. Ia merasa dialah yang bertanggung jawab atas kepedihan itu, yang justru membuat rasa pedih makin parah. Ia tidak bisa mengendalikan emosi atau tindakan mantan. Meskipun mantan patut disalahkan, dia tidak pernah bertanggung jawab atas apa yang dirasakan Manson. Setelah berhari-hari air mata dan alkohol, Manson mulai mengambil tanggung jawab: olahraga, bertemu teman, bepergian, menjadi relawan. Perlahan merasa lebih baik. Setahun kemudian, saat menengok hubungan itu, ia mulai menyadari bahwa ia sendiri sering bersikap dingin, arogan, menyia-nyiakan, dan membuat kecewa—ia bukan "Boyfriend of the Year". Bukan berarti kesalahan-kesalahannya membenarkan perselingkuhan, tapi dengan mengenali perannya, ia dibantu untuk tidak mengulangi pola yang sama. Diputus pacar menjadi salah satu pengalaman paling menyakitkan sekaligus paling berpengaruh dalam hidupnya—ia belajar lebih banyak dari satu masalah itu daripada dari kombinasi puluhan keberhasilannya. Menyalahkan orang lain hanya melukai diri sendiri.

Menanggapi Tragedi

Lalu bagaimana dengan peristiwa yang teramat buruk? Manson menggunakan contoh dirampok: jelas bukan kesalahan Anda, namun Anda dipaksa mengambil tanggung jawab dalam situasi hidup-mati—melawan, panik, terpaku, menghubungi polisi, berusaha melupakan, atau berpura-pura tidak pernah terjadi. Itu semua adalah pilihan dan tanggapan yang menjadi tanggung jawab Anda. Anda tidak memilih untuk dirampok, tapi tetap bertanggung jawab mengelola dampak emosional, psikologis, dan hukumnya.

Kisah Malala Yousafzai menjadi contoh utama. Pada 2008, Taliban menguasai Lembah Swat, Pakistan: tidak ada televisi, film, wanita di luar rumah tanpa pendamping pria, anak perempuan dilarang sekolah. Malala yang berusia 11 tahun mulai bersuara menentang larangan itu, masuk sekolah dengan mempertaruhkan nyawa, menulis di blog, "Beraninya Taliban merampas hak saya untuk mendapatkan pendidikan?" Pada 2012, saat berusia 14 tahun, ditembak tepat di wajahnya di dalam bus—seorang tentara Taliban bertanya, "Mana Malala? Katakan, atau kutembak semua orang di sini." Malala menunjukkan dirinya, lalu ditembak di kepala. Taliban mengancam akan membunuhnya dan ayahnya. Malala selamat, terus berbicara menentang kekerasan terhadap wanita, menjadi penulis buku terlaris, dan pada 2014 menerima Penghargaan Nobel Perdamaian.

Manson menceritakan pengalamannya sendiri saat seorang pembaca blog mengirim komentar bahwa ia tidak tahu rasa sakit yang sesungguhnya, karena anak laki-laki pembaca itu baru meninggal dalam kecelakaan mobil. Manson merasa takut dan mulai berpikir mungkin ia sudah kehilangan akal sehat. Itulah bahaya dalam pekerjaannya—masalah yang ia pilih, dan permasalahan yang dipilih menjadi tanggung jawabnya. Awalnya ia merasa bersalah, lalu marah, lalu menerapkan nasihatnya sendiri: ia memilih masalah yang lebih baik, lebih bersabar, memahami pembaca, dan mencoba mengingat pria itu setiap kali menulis tentang rasa sakit dan trauma. Balasan yang ia berikan hanya belasungkawa—apa lagi yang bisa dikatakan? Rasa sakit, apa pun bentuknya, tidak bisa dihindari, tapi kita harus memutuskan apa maknanya bagi kita. Bahkan ketika mengklaim tidak punya pilihan dan hanya ingin anaknya kembali, itu sendiri adalah sebuah pilihan.

Genetika dan Warisan

Manson menceritakan proyek dokumenter BBC tahun 2013 tentang remaja dengan obsessive-compulsive disorder (OCD). Ada Imogen (17 tahun) yang punya kebutuhan kompulsif menyentuh setiap permukaan; Josh yang harus melakukan segalanya secara simetris (kanan-kiri), jika tidak, diserang kepanikan; dan Jack, germophobe yang merebus air sebelum diminum dan menolak makanan yang tidak disiapkan sendiri. OCD adalah penyimpangan saraf dan genetika yang tidak bisa disembuhkan, hanya dikelola. Langkah pertama psikiater: meminta mereka menerima ketidaksempurnaan dari keinginan kompulsif—bahwa keluarga Imogen memang akan meninggal someday, bahwa perilaku "menyeimbangkan" Josh justru menghancurkan hidupnya, bahwa kuman akan selalu ada menyerang Jack. Tujuannya membuat mereka menyadari nilai-nilai mereka tidak rasional, berasal dari penyimpangan, dan membahayakan fungsi kehidupan. Langkah kedua: menyemangati mereka memilih nilai yang lebih penting dari nilai OCD—Josh ingin punya kehidupan sosial normal, Imogen ingin kembali ceria, Jack ingin bisa keluar rumah. Di akhir program, Imogen tidak lagi menyentuh setiap permukaan, Josh mampu melewati 25-30 menit tanpa menyeimbangkan tubuh, dan Jack mampu pergi ke restoran tanpa harus mencuci botol. Jack merangkum dengan baik: "Saya tidak memilih kehidupan yang seperti ini; Saya tidak memilih kondisi yang sangat mengerikan ini. Namun saya harus memilih bagaimana untuk menghidupinya."

Banyak orang terlahir dengan kekurangan—OCD, bertubuh kecil, atau apapun—seakan-akan mereka menyimpang dari sesuatu yang sangat bernilai, lalu menghindari tanggung jawab: "Saya tidak memilih genetik yang buruk, jadi bukan salah saya." Benar, itu bukan salah mereka. Tapi mereka tetap harus bertanggung jawab.

Manson menggunakan metafora poker dari pengalamannya hampir setahun menjadi pemain poker profesional. Kita semua mendapatkan kartu—beberapa lebih bagus dari yang lain. Meskipun mudah menyerah dan merasa dikalahkan, permainan yang sebenarnya terletak pada pilihan yang kita buat terhadap kartu tersebut, pilihan risiko, dan konsekuensi yang kita jalani. Yang memenangkan permainan bukan yang punya kartu terbaik, tapi yang secara konsisten membuat pilihan terbaik. Ada orang yang menderita karena kelainan saraf atau genetik, anak yang dilecehkan, dilanda tragedi—tidak seorang pun melalui hidup tanpa membawa bekas luka. Tapi meskipun masalah seseorang lebih parah, ini tidak mengubah tanggung jawab yang melekat pada situasi pribadi mereka.

Tren Menjadi Korban

Salah kaprah tentang tanggung jawab membuat orang melemparkan tanggung jawab untuk menyelesaikan masalah mereka kepada orang lain. Internet dan media sosial mempermudah pelemparan tanggung jawab—bahkan untuk pelanggaran kecil. Permainan menyalahkan dan mempermalukan di lingkup publik menjadi populer, dipandang "keren" oleh kalangan tertentu. Menyebarkan "ketidakadilan" ke publik memanen perhatian dan emosi yang lebih banyak, memberikan imbalan berupa perhatian dan simpati berlimpah bagi yang terus-menerus merasa menjadi korban. Mungkin ini pertama kalinya dalam sejarah setiap kelompok demografik merasa menjadi korban secara terus-menerus—baik kanan maupun kiri, kaya maupun miskin.

Iklim media saat ini mendorong sekaligus melanggengkan reaksi ini karena menguntungkan untuk bisnis. Ryan Holiday menyebut ini "pornografi kemarahan": media mencari sesuatu yang menyerang pihak tertentu, menyebarkan ke audiens luas, menciptakan kemarahan, lalu menyiarkan kemarahan itu ke seluruh populasi dengan cara yang memicu kemarahan sebagian populasi lain. Ini menciptakan gaung omong kosong yang memantul bolak-balik di antara dua sisi imajiner, mengalihkan setiap orang dari masalah sosial yang sebenarnya. Tidak mengherankan kita makin terpolarisasi secara politik.

Masalah terbesar "Tren Menjadi Korban" adalah semakin menjauhkan perhatian kita dari korban yang sesungguhnya—semakin banyak orang menyatakan diri korban atas pelanggaran kecil, semakin sulit melihat siapa korban sebenarnya. Orang menjadi kecanduan merasa diserang karena memberi mereka kenikmatan: menjadi pihak yang dibenarkan, secara moral superior. Kartunis politik Tim Kreider menulis di New York Times: "Luapan kemarahan seperti banyak hal lainnya terasa enak tapi setelah beberapa lama itu akan menelan kita dari dalam." Bagian dari hidup dalam masyarakat demokratis dan bebas adalah kita semua harus berhadapan dengan berbagai pandangan yang berseberangan—itulah harga yang kita bayar, bahkan seluruh inti demokrasi. Kita disarankan memilih pertempuran dengan hati-hati, sambil berempati pada mereka yang kita sebut musuh, mendahulukan kejujuran, memelihara keterbukaan, menerima keraguan. Nilai-nilai demokratis ini sulit dipertahankan di tengah dunia yang selalu bising, tapi stabilitas sistem politik kita bisa bergantung pada hal ini.

Tidak Ada Bagaimana

Banyak orang, setelah mendengar semua ini, berkata, "Oke, tapi bagaimana? Saya sadar nilai saya payah, bahwa saya menghindari tanggung jawab, bahwa saya orang cengeng—tapi bagaimana saya berubah?" Manson menjawab dengan meniru Yoda: "Lakukan, atau jangan lakukan; tidak ada 'bagaimana'." Kita sudah memilih, di setiap momen setiap hari, apa yang kita pedulikan—berubah sesederhana memilih untuk memedulikan hal lain. Sungguh sesederhana itu. Tapi itu tidak mudah. Pada awalnya kita akan merasa seperti pecundang, penipu, tolol. Kita akan gugup, takut, mungkin marah kepada istri, teman, atau ayah. Itu semua efek samping mengubah nilai.

Beberapa efek samping konkret: pertama, kita akan merasa tidak yakin—haruskah melepaskan nilai ini, apakah ini hal yang benar? Melepaskan nilai yang telah melekat bertahun-tahun akan membuat kita mengalami disorientasi karena tidak tahu lagi mana yang baik dan buruk. Ini wajar. Kedua, kita akan merasa gagal—setelah bertahun-tahun mengukur diri dengan nilai lama, ketika mengganti prioritas, mengubah ukuran, dan berhenti melakukan perilaku lama, kita gagal menemukan ukuran lama yang tepercaya dan akan merasa tidak menjadi siapa-siapa. Ini juga normal dan tidak nyaman. Ketiga, kita akan mengalami penolakan—banyak hubungan dibangun di atas nilai yang kita jaga, jadi ketika kita berubah, perubahan itu akan bergema dalam seluruh hubungan dan banyak yang meledak di muka kita. Ini normal dan tidak akan membuat nyaman.

Efek-efek samping ini penting meskipun menyakitkan. Ketika menyortir ulang nilai, kita akan menemui penolakan secara internal dan eksternal. Kita akan merasa tidak yakin, bertanya-tanya apakah yang kita lakukan salah. Tapi ini hal yang baik.

BAB 6: Anda Keliru tentang Semua Hal

Tapi Saya Pun Begitu

Manson membuka dengan mengingatkan bahwa lima ratus tahun lalu para kartografer percaya California adalah sebuah pulau, para dokter meyakini menyayat lengan bisa menyembuhkan penyakit, para astronom yakin matahari berevolusi mengelilingi bumi. Ketika masih bocah, ia pikir "mediocre" adalah jenis sayuran, abangnya menemukan jalan rahasia dari kamar mandi nenek (ada jendela), dan "Washington, B.C." berarti zaman dinosaurus. Saat remaja, ia berpura-pura tidak peduli padahal terlalu peduli. Ia pikir kebahagiaan adalah takdir, bukan pilihan; cinta terjadi begitu saja, bukan diperjuangkan; "keren" harus dipelajari dari orang lain. Pacaran pertama, ia pikir mereka akan bersama selamanya; setelah putus, ia pikir tidak akan pernah merasakan cinta lagi; jatuh cinta lagi, ia pikir cinta saja tidak cukup; lalu menyadari bahwa setiap pribadi harus memutuskan apa yang disebut "cukup".

Setiap langkah dalam perjalanan hidupnya ternyata keliru. Tentang setiap hal. Sepanjang hidup, ia keliru menilai diri sendiri, orang lain, masyarakat, budaya, dunia, alam semesta—semua hal. Sama seperti Mark sekarang mampu melihat setiap cacat dan kesalahan Mark yang dulu, suatu hari Mark masa depan akan memeriksa kembali asumsi dari Mark sekarang dan mendapati beberapa kesalahan serupa. Ini hal yang baik karena artinya ia telah berkembang. Michael Jordan berkata tentang dirinya yang gagal dan gagal lagi, dan itulah yang membuatnya sukses. Ya, Manson selalu keliru tentang semua hal, lagi dan lagi, dan itulah alasan hidupnya menjadi lebih baik.

Pertumbuhan merupakan proses berulang yang tidak pernah berakhir. Ketika kita mempelajari sesuatu yang baru, kita tidak beranjak dari "salah" menuju "benar"—kita berangkat dari salah menuju sedikit salah, dan seterusnya. Kita selalu mendekati kebenaran dan kesempurnaan tanpa benar-benar meraihnya. Sebaiknya kita tidak bernafsu mencari jawaban paling "benar" bagi diri sendiri, namun lebih pada pencarian menyingkirkan kekeliruan hari ini sehingga esok kekeliruannya semakin kecil. Perkembangan pribadi sebenarnya cukup ilmiah: nilai-nilai adalah hipotesis, tindakan adalah eksperimen, emosi serta pola pemikiran adalah sumber informasi. Tidak ada dogma yang benar, tidak ada ideologi yang sempurna. Karena setiap orang memiliki kebutuhan, sejarah, dan situasi hidup berbeda, kita semua akan memiliki jawaban "benar" yang berbeda.

Banyak orang teramat terobsesi memiliki hidup yang "benar" sampai-sampai mereka tidak benar-benar menjalani hidup itu sendiri. Wanita lajang yang ingin punya pacar tapi tidak pernah keluar rumah; pria yang yakin berhak naik pangkat tapi tidak pernah mengutarakan ke bos. Mereka diajarkan takut akan kegagalan dan penolakan, hingga lebih mudah berdiam diri dalam keyakinan menyakitkan bahwa tak seorang pun tertarik atau menghargai mereka, daripada benar-benar menguji keyakinan tersebut. Keyakinan seperti "saya tidak cukup menarik" atau "bos saya bajingan" dirancang memberi kenyamanan biasa dengan menggadaikan kebahagiaan dan kesuksesan yang lebih besar. Kita berpegang pada keyakinan itu karena kita menyangka sudah tahu apa yang akan terjadi—kita berasumsi kita tahu akhir ceritanya.

Kepastian adalah musuh pertumbuhan. Tidak ada yang pasti hingga benar-benar terjadi—dan bahkan sesudahnya masih dapat diperdebatkan. Alih-alih ngotot mencari kepastian, kita sebaiknya terus berupaya mencari keraguan: tentang keyakinan sendiri, tentang perasaan sendiri, tentang apa yang dipersiapkan masa depan. Daripada berusaha menjadi benar setiap saat, sebaiknya cari tahu bagaimana kita bisa keliru setiap saat. Kekeliruan membuka kemungkinan perubahan dan kesempatan untuk tumbuh. Kita tidak benar-benar tahu mana yang disebut pengalaman positif dan negatif—beberapa momen sulit berubah menjadi yang paling membangun, dan sebaliknya. Sebagaimana kita menertawakan keyakinan manusia 500 tahun lalu, orang 500 tahun dari sekarang akan menertawakan kita, dan mereka pun akan keliru, meski lebih sedikit.

Arsitek Keyakinan Kita Sendiri

Manson menceritakan eksperimen psikologi klasik: orang-orang diminta duduk di ruangan dengan beberapa tombol, dan tanpa diberitahu caranya, mereka harus mendapatkan poin (lampu menyala). Dalam 10-15 menit, setiap orang menemukan "urutan spesifik" yang aneh untuk mendapatkan poin lebih banyak—berdiri dengan satu kaki, menyentuh langit-langit, urutan tombol panjang. Lucunya, poin tersebut muncul secara acak—tidak ada urutan, tidak ada pola—tapi semua orang keluar dari ruangan dengan keyakinan kuat bahwa mereka telah menemukan metode sempurna. Metode yang mereka temukan sama uniknya dengan pribadi mereka.

Otak kita adalah mesin makna—produk asosiasi yang dilakukan otak terhadap dua pengalaman atau lebih. Tombol ditekan, lampu menyala, otak berasumsi tombol menyebabkan lampu. Ini dasar dari yang kita sebut makna. Pikiran kita terus berputar menghasilkan asosiasi untuk memahami dan mengendalikan lingkungan. Namun ada dua masalah: otak tidak sempurna—kita acap keliru melihat, mendengar, melupakan, dan keliru menafsirkan. Kedua, begitu menciptakan sebuah makna, otak dirancang untuk mempertahankannya. Kita berprasangka terhadap makna yang telah dibuat dan tidak mau melepaskannya, bahkan saat ada bukti yang bertentangan. Komedian Emo Philips berkata, "Dulu saya pikir otak manusia adalah organ yang paling ajaib dalam tubuh saya. Kemudian saya sadar siapa yang mengatakan ini." Hampir semua yang kita "ketahui" dan percayai merupakan produk dari ketidakakuratan dan prasangka dalam otak kita. Banyak nilai kita merupakan hasil dari peristiwa yang tidak mewakili dunia secara luas—hasil dari masa lalu yang keliru dipahami seluruhnya. Pangkal dari semua ini: sebagian besar keyakinan kita keliru—atau lebih tepatnya lagi, semua keyakinan keliru, beberapa hanya sedikit lebih keliru dari yang lainnya.

Berhati-Hatilah dengan Apa yang Anda Percayai

Kisah Meredith Maran menjadi peringatan mengerikan. Pada 1988, saat menjalani terapi, jurnalis feminis berusia 37 tahun ini mendapati "mengenai" bahwa ayahnya pernah melakukan kekerasan seksual terhadapnya saat kecil. Ia menghadapi ayahnya dan menceritakan ke keluarganya. Pohon keluarganya terbelah. Pada 1996, dengan bantuan terapis, Meredith menyadari bahwa ayahnya tidak pernah melecehkannya—ia menciptakan sendiri memori tersebut. Ia menghabiskan sisa hidup ayahnya untuk meminta maaf. Meredith tidak sendirian: pada 1980-an, banyak wanita menuduh anggota keluarga laki-laki melakukan kekerasan seksual, lalu mengakui salah tuduh; ada kelompok yang mengklaim ada sekte setan yang melecehkan anak-anak, meskipun polisi tidak pernah menemukan bukti.

Mengapa ingatan tentang pelecehan muncul tiba-tiba di 1980-an? Memori kita bekerja seperti permainan telepon: kita mengalami sesuatu, mengingatnya sedikit berbeda, menceritakannya kepada seseorang, mengisi kekosongan plot dengan polesan kita sendiri, memercayai polesan itu, lalu menceritakannya lagi dengan tambahan baru—dan lima tahun kemudian, kita bersumpah kisah isapan jempol itu 50 persen nyata. Otak kita dirancang agar efisien, bukan akurat. Memori kita payah—testimoni saksi mata tidak lagi dianggap serius dalam persidangan—dan otak kita sangat bias. Kita menafsirkan informasi baru berdasarkan nilai dan kesimpulan yang sudah kita punya, sehingga memori tentang saudara yang sama bisa tampak positif saat hubungan manis dan negatif saat hubungan masam.

Cerita Meredith jauh lebih masuk akal dengan memahami nilai-nilainya: hubungan yang tegang dengan ayahnya sepanjang hidup, serangkaian kegagalan hubungan dengan laki-laki, menjadi feminis radikal dan mulai meneliti kekerasan terhadap anak, jatuh cinta dan menjalani hubungan saling tergantung dengan wanita penyintas inses, sementara terapisnya di era repressed memory therapy mendorongnya menggali memori masa kecil yang "terlupakan". Voilà, resep mujarab untuk menciptakan memori kekerasan seksual yang tidak pernah terjadi. Ketika pikiran menghadapi situasi di mana masa lalu dan masa kini tidak sesuai, pikiran kadang akan menciptakan memori palsu untuk mencapai kecocokan. Pada 1980-an dan awal 1990-an, ratusan orang tidak bersalah dituduh melakukan kekerasan seksual dengan latar belakang serupa; banyak di antaranya masuk penjara. Ini kemudian dikenal sebagai false memory syndrome. Repressed memory therapy tidak lagi digunakan. Pelajaran menyakitkan dari era itu: keyakinan kita bisa dipengaruhi, dan ingatan kita tidak bisa diandalkan. Kebijakan "percayai diri sendiri" dan "ikuti nyali" perlu dipertanyakan—jika hati dan pikiran kita tidak dapat diandalkan, mungkin kita perlu lebih dalam mempertanyakan maksud dan motivasi sendiri. Skeptisisme diri adalah rute paling logis.

Bahaya Kepastian Murni

Manson menceritakan kisah Erin, seorang wanita yang ia temui di seminar self-help 2008—mantan pengacara lulusan Ivy League, sedikit "woo-woo" (memercayai hal supernatural), dan tertarik pada New Age. Setelah kecelakaan mobil di mana ia "meninggal" secara medis beberapa saat, Erin kembali dengan klaim telah menjadi tabib yang bisa melihat masa depan, serta meyakini bahwa ia dan Manson ditakdirkan menyelamatkan dunia bersama. Saat Manson mencoba putus, Erin mengancam bunuh diri. Setelah Manson memblokirnya, Erin membuat surel baru, puluhan surel penuh amarah sehari, akun Facebook dan Twitter palsu, situs web hampir identik dengan milik Manson yang menulis bahwa ia adalah mantan kekasihnya, bahwa mereka ditakdirkan bersama, bahwa Tuhan menitahkan "hubungan istimewa" demi mengarungi era baru kedamaian abadi. Ribuan surat masuk ke inbox Manson selama tujuh tahun, pikirannya tidak pernah berubah.

Erin menghabiskan USD10.000 untuk buku, seminar, dan kursus self-improvement. Ia menerapkan mentah-mentah semua yang dipelajari: punya mimpi, gigih memperjuangkannya, memvisualisasikan, bangkit lagi setelah penolakan, positif, percaya diri tinggi. Semua "baik" yang dilakukannya tidak membuatnya baik. Ada kepastian dalam dirinya yang tak mampu ia tanggalkan, meskipun ia sendiri mengaku kegemarannya tidak rasional dan tidak sehat. Roy Baumeister pada pertengahan 1990-an menemukan bahwa orang melakukan hal buruk bukan karena merasa diri mereka buruk, tapi justru karena kepercayaan diri mereka cukup baik—perasaan superioritas memberi mereka pembenaran untuk melukai orang lain. Orang-orang yang merasa tindakan buruknya dibenarkan merasakan kepastian yang tak terbantahkan akan nilai-nilai kebenaran yang mereka yakini. Orang rasis yakin akan superioritas genetik mereka; pemeluk agama fanatik yakin akan tempat istimewa di surga; pria yang memperkosa wanita yakin mereka berhak atas tubuh wanita. Orang-orang jahat tidak pernah percaya kalau mereka jahat—mereka percaya orang lainlah yang jahat. Dalam Eksperimen Milgram, banyak "algojo" tampak menikmati otoritas moral yang dilimpahkan kepada mereka.

Memperoleh kepastian justru melahirkan kerentanan yang lebih besar. Orang yang punya keyakinan tak tergoyahkan akan kemampuan mereka di pekerjaan merasa makin buruk saat melihat orang lain mendapat promosi. Tindakan sederhana seperti diam-diam membaca SMS pacar, atau bertanya tentang penilaian orang lain tentang diri kita, sesungguhnya didorong oleh kerapuhan dan kegelisahan demi memperoleh kepastian. Anda boleh mengecek SMS pasangan dan tidak menemukan apa-apa, tapi kemudian curiga jangan-jangan dia punya ponsel lain. Ini hukum kebalikan: semakin ingin mendapat kepastian, semakin merasa tidak pasti dan tidak aman. Sebaliknya, semakin menerima sepenuhnya ketidakpastian, semakin merasa nyaman karena tahu persis apa yang tidak Anda ketahui. Ketidakpastian membebaskan kita dari penilaian terhadap diri sendiri dan orang lain, dan merupakan akar dari semua kemajuan dan pertumbuhan. Manusia yang yakin dirinya mengetahui semuanya tidak akan mempelajari apa pun. Satu-satunya cara untuk memecahkan masalah adalah pertama-tama mengakui bahwa hingga saat ini seluruh tindakan dan keyakinan kita telah terbukti salah.

Hukum Menghindar Manson

Seperti hukum Parkinson ("pekerjaaan merentang mengisi alokasi waktu") dan hukum Murphy ("hal buruk yang mungkin terjadi akan sungguh terjadi"), Manson menawarkan hukumnya sendiri: "Semakin banyak bahaya yang mengancam identitas Anda, semakin Anda berusaha menghindarinya." Artinya, semakin banyak hal yang mengancam cara Anda memandang diri sendiri, cara Anda meyakini akan menjadi sukses atau tidak, cara Anda menghayati nilai-nilai yang Anda yakini, semakin sering Anda akan menghindar dari keinginan untuk mewujudkannya. Setiap hal yang menggoyang kenyamanan kita—meskipun berpotensi membuat hidup lebih baik—pada dasarnya menakutkan.

Hukum Manson berlaku untuk hal baik dan buruk. Memiliki penghasilan jutaan dolar dapat mengancam identitas setara dengan kehilangan semua uang; menjadi bintang rock terkenal mengancam identitas setara dengan kehilangan pekerjaan. Inilah mengapa orang kadang takut sukses—untuk alasan yang sama mereka takut gagal: konsekuensinya mengancam keyakinan tentang identitas diri. Anda menghindari menulis skenario yang adalah mimpi Anda karena akan menimbulkan pertanyaan terhadap identitas Anda sebagai petugas klaim asuransi. Anda menghindari membicarakan hasrat untuk lebih "panas" di ranjang karena akan menantang jati diri sebagai wanita baik-baik. Anda menghindari mengatakan pada teman bahwa Anda tak ingin menemuinya lagi karena mengakhiri pertemanan bertentangan dengan identitas Anda sebagai orang baik dan pemaaf. Itu kesempatan emas yang senantiasa kita lewatkan karena mengancam pandangan dan perasaan kita terhadap diri sendiri.

Manson menceritakan temannya yang bertahun-tahun ingin memperkenalkan karya seni online tapi tidak pernah meluncurkannya—selalu ada alasan: resolusi kurang bagus, lukisan lebih bagus sedang dalam proses, belum ada waktu. Dia tidak pernah melepaskan "pekerjaan nyata". Mengapa? Mimpi penghasilan dari seni itu menyenangkan, tapi ada ketakutan nyata jika nanti menjadi Seniman Tak Laku—jauh lebih mengerikan dari Seniman yang Tak Pernah Didengar. Setidaknya ia nyaman dengan sebutan terakhir. Teman lain, jawara pesta, ingin mengubah gaya hidup tapi tidak pernah berubah—setelah tahun demi tahun, botol demi botol, alasannya selalu ada. Identitasnya terancam jika melepaskan gaya hidup: Jawara Pesta, hanya itu yang dia ketahui.

Otak kita melindungi nilai-nilai ini, mencoba menghidupinya, mencari pembenaran, dan merawatnya. Ada bias dalam cara pikir kita yang berasal dari apa yang sudah kita yakini. Jika saya percaya saya pria baik-baik, saya akan menghindari situasi yang berpotensi menentang keyakinan tersebut. Kita tidak akan bisa mengelak dari perilaku menghindar dan kepanikan sampai kita mau mengubah cara pandang terhadap diri sendiri, apa yang kita yakini, dan apa yang tidak. Dalam hal ini, "mengenal diri sendiri" atau "menemukan diri sendiri" bisa membahayakan—memaku Anda pada peran kaku dan membebani Anda dengan ekspektasi tidak penting, menutupi potensi diri dan peluang dari luar. Manson berkata: jangan temukan diri Anda. Jangan kenali diri Anda. Karena inilah yang menjaga Anda untuk tetap berusaha dan mencari, memaksa Anda tetap rendah hati, dan menerima berbagai perbedaan dari banyak orang.

Bunuh Diri Anda Sendiri

Buddhisme berpendapat bahwa ide Anda tentang siapa diri "Anda" merupakan konstruksi mental yang sewenang-wenang, dan Anda sebaiknya melepaskan ide tentang keberadaan "Anda" sama sekali. Buddhisme mendorong Anda untuk bodo amat. Ini mungkin terdengar sinting, tapi ada keuntungan psikologis: ketika kita melepaskan cerita-cerita tentang kita, kita membebaskan diri agar bisa benar-benar bertindak, gagal, dan tumbuh. Ketika seseorang mengaku pada dirinya sendiri, "Mungkin aku memang tidak terlalu baik dalam menjalin hubungan," tiba-tiba merasa bebas untuk mengambil tindakan dan menghentikan pernikahan yang buruk—tidak perlu melindungi jati diri dengan tetap berada dalam pernikahan menyedihkan hanya untuk membuktikan sesuatu. Ketika siswa mengaku, "Mungkin aku bukan pemberontak; mungkin aku hanya takut," dia dimerdekakan untuk menjadi ambisius lagi, tidak punya alasan merasa terancam saat mengejar mimpi akademiknya. Ketika petugas klaim asuransi mengakui, "Mungkin tidak ada yang unik dari mimpiku," dia merdeka mengirimkan naskah skenarionya.

Manson punya kabar baik sekaligus kabar buruk: sedikit saja yang unik dan istimewa dari masalah Anda—itulah mengapa mengikhlaskannya memerdekakan. Ketika Anda merasakan ketakutan yang didasari kepastian tidak rasional—pesawat akan jatuh, ide proyek paling konyol, Anda akan dicibir semua orang—secara implisit Anda berkata, "Aku perkecualian; saya tidak seperti orang lain; saya berbeda dan istimewa." Ini bentuk narsisisme murni. Anda merasa seakan masalah Anda layak diperlakukan berbeda, memiliki rumus matematika unik yang tidak mengikuti hukum fisika alam semesta. Saran Manson: jangan jadi istimewa; jangan jadi unik. Definisikan ulang ukuran Anda dengan cara biasa dan umum. Pilih ukuran diri bukan sebagai primadona atau jenius terselubung, bukan sebagai korban mengerikan atau kegagalan suram, melainkan dengan identitas yang lebih biasa: seorang siswa, rekan, teman, pencipta. Semakin sempit dan langka identitas yang Anda pilih, semua hal akan tampak semakin mengancam. Untuk alasan itu, nyatakan diri Anda dengan cara paling sederhana dan paling biasa. Ini sering berarti melepaskan beberapa ide gila tentang diri Anda: bahwa Anda secara unik cerdas, bertalenta, menarik dalam konteks intimidatif, atau menjadi korban yang tidak pernah dapat dibayangkan. Seperti pecandu yang menyerahkan jarum, Anda akan mengalami penolakan saat memulainya, tapi akan merasa jauh lebih baik sesudahnya.

Cara Menjadi Tidak Terlalu Pasti pada Diri Sendiri

Manson mengakui bahwa menanyai diri sendiri dan meragukan pikiran dan keyakinan sendiri merupakan salah satu keahlian paling sulit untuk dikembangkan, tapi bisa dilakukan. Ia menawarkan beberapa pertanyaan.

Pertanyaan #1: Bagaimana Jika Saya Keliru? Teman Manson baru saja bertunangan dengan laki-laki yang baik—tidak minum, tidak kasar, punya pekerjaan mapan. Namun sejak pertunangan, abang temannya tiada henti menasihatinya tentang ketidakdewasaan pilihan hidupnya, memperingatkan dia akan melukai diri sendiri. Setiap kali ditanya masalahnya apa, abang itu berlagak tidak ada masalah. Padahal jelas ada yang mengganggu—mungkin ketidakamanan tentang pernikahan, rivalitas saudara, kecemburuan, atau perasaan menjadi korban yang tidak tahu cara menunjukkan kebahagiaan tanpa membuat orang lain merasa hidupnya menderita. Kita semua adalah pengamat paling buruk untuk diri kita sendiri. Satu-satunya cara untuk menemukan apa yang mengganggu adalah melubangi baju zirah keyakinan kita sendiri: "Apakah saya pencemburu—dan mengapa?" "Apakah saya marah?" "Tidakkah dia benar, saya hanya melindungi ego saya sendiri?" Pertanyaan seperti ini perlu menjadi kebiasaan mental. Hanya karena bertanya apakah Anda keliru tidak berarti Anda keliru—tujuannya melayangkan pertanyaan dan menertawakan pikiran kita, bukan membenci diri sendiri. Untuk perubahan dalam hidup, Anda harus pernah keliru akan sesuatu.

Pertanyaan #2: Apa Artinya Jika Saya Keliru? Banyak orang mampu bertanya apakah mereka keliru, tapi hanya sedikit yang mampu melangkah lebih jauh mengetahui apa artinya jika mereka keliru. Penyebabnya adalah rasa sakit di balik kekeliruan tersebut. Langkah ini memaksa kita mempertimbangkan apa jadinya memiliki nilai yang bertentangan. Aristoteles menulis, "Tanda dari seorang yang terpelajar ada pada kemampuannya untuk menertawakan suatu pemikiran tanpa harus menerimanya." Dalam kasus abang teman itu, pertanyaan seharusnya: "Apa artinya jika ternyata pendapat saya keliru tentang pernikahan saudari saya?" Kadang jawabannya blak-blakan: "Saya seorang yang egois/rapuh/keparat narsis." Jika dia keliru dan pertunangan saudarinya baik-baik saja, tidak ada penjelasan lain selain rasa tidak aman dan nilai-nilai kacau. Pengakuan semacam itu sulit diterima dan menyakitkan—itulah mengapa hanya sedikit orang mampu melakukannya.

Pertanyaan #3: Apakah Kekeliruan Akan Menciptakan Permasalahan yang Lebih Baik atau Buruk? Ini cara paling jitu menentukan apakah kita sudah menemukan nilai yang solid atau kita sepenuhnya orang gila yang kerjanya merecoki orang lain. Dalam kasus abang teman itu, pilihannya: A) terus membuat drama dan gesekan dalam keluarga, memperumit yang seharusnya menyenangkan, menghancurkan kepercayaan saudarinya, semua karena firasat bahwa laki-laki itu tidak baik; atau B) tidak memercayai kemampuannya sendiri menentukan benar atau salah atas kehidupan saudarinya, tetap rendah hati, memercayai kemampuan saudarinya membuat keputusan sendiri, dan menerima serta menghargainya sebagai bentuk cinta. Sebagian besar orang memilih A—karena A adalah jalan setapak yang lebih mudah, tidak memerlukan pemikiran rumit, tidak perlu berpikir dua kali, tidak ada penolakan keputusan yang mengganggu. Tapi pilihan A juga menciptakan kepedihan paling dalam. Pilihan B menjaga hubungan sehat yang dibangun di atas kepercayaan dan rasa hormat, memaksa orang tetap rendah hati, memungkinkan orang tumbuh melampaui rasa tidak aman—tapi sulit dan menyakitkan, jadi sebagian besar tidak memilihnya.

Manson menutup dengan aturan yang ia terapkan bertahun-tahun: jika ia merasa seseorang mengacaukan hidupnya, atau melihat orang lain hidupnya kacau, sebenarnya sayalah yang jauh lebih kacau. Ia telah belajar dari pengalaman: menjadi orang brengsek karena bertindak berdasarkan rasa tidak aman dan kepastian yang ternyata keliru, lebih banyak dari yang bisa ia hitung. Ini bukan berarti tidak ada hal-hal yang pasti akan membuat hidup seseorang kacau, bukan pula berarti kadang kita bisa jadi lebih benar dari orang kebanyakan. Ini hanyalah kenyataan: jika rasanya seakan-akan Anda sedang melawan dunia, kemungkinannya adalah Anda sedang melawan diri Anda sendiri.

BAB 7: Kegagalan adalah Jalan untuk Maju

Paradoks Kegagalan/Kesuksesan

Mark Manson membuka bab ini dengan kisah pribadi: lulus kuliah tahun 2007 di tengah Resesi Besar, dikecewakan rekan sekamar yang kabur membawa tunggakan sewa tiga bulan, lalu menghabiskan setengah tahun tidur di sofa teman, mengirim puluhan lamaran kerja tanpa balasan, dan menghitung koin untuk sekadar makan di McDonald. Ironisnya, titik nadir itu justru membuatnya berani memulai blog dan bisnis internet—karena ia sudah tidak punya apa-apa lagi yang hilang. Lebih dari itu, tumbuh di keluarga kaya mengajarkan Manson bahwa uang adalah ukuran yang keliru; ada orang kaya yang menyedihkan, ada orang miskin yang berbahagia. Karena itu ia menyusun nilai hidupnya bukan soal pendapatan, melainkan soal kebebasan, otonomi, dan kemampuan bekerja di mana pun. Pertanyaan yang ia ajukan ke diri sendiri sederhana: lebih suka digaji layak tapi membenci pekerjaan, atau wiraswasta yang bangkrut sesekali? Jawabannya jelas. Dengan kerangka nilai seperti itu, kegagalan bukan soal rekening merah—kegagalan adalah tidaknya ia mengejar proyek yang ia yakini.

Manson kemudian mengisahkan anekdot Pablo Picasso yang sedang mencorat-coret di tisu bekas sebuah kafe di Spanyol. Saat seorang wanita memuji gambar itu dan menawarnya uang, Picasso menyebut harga dua puluh ribu dolar. Wanita itu protes: "Hanya dua menit!" Picasso menjawab, "Tidak, Nyonya. Saya butuh enam puluh tahun untuk menggambar ini." Dari situ Manson membangun argumen besarnya: perbaikan di setiap bidang ditumpukan di atas ribuan kekeliruan kecil, dan besarnya kesuksesan seseorang berbanding lurus dengan berapa kali ia gagal. Anak kecil yang sedang belajar berjalan jatuh ratusan kali tanpa pernah berkesimpulan "berjalan bukan bidang saya"—tetapi naluri takut gagal itu justru kita pelajari belakangan, dari sistem pendidikan yang menghukum performa buruk, dari orang tua yang gemar mengkritik, dan dari media yang hanya memamerkan hasil gemilang tanpa menampilkan ribuan jam latihan monoton di baliknya. Ketakutan akan kegagalan kebanyakan berakar dari nilai-nilai yang keliru. Mengukur diri lewat "membuat semua orang menyukai saya" meletakkan harga diri di tangan orang lain dan pasti melahirkan kecemasan. Sebaliknya, nilai yang baik berorientasi pada proses—misalnya "menjalin hubungan baik dengan orang lain secara jujur"—sehingga kegagalan bukan lagi ancaman, melainkan bagian dari perjalanan. Picasso tetap produktif sampai usia sembilan puluhan karena tolok ukurnya bukan ketenaran atau jumlah lukisan, melainkan menjadi sederhana dan rendah hati: sebuah proses tanpa ujung. Tisu itu bernilai mahal bukan karena media atau durasi, melainkan karena nilai "ungkapan jujur" yang melandasinya.

Derita Adalah Bagian dari Proses

Manson memperkenalkan penelitian psikolog Polandia Kazimierz Dabrowski pada 1950-an tentang para penyintas Perang Dunia II. Mengejutkan, sebagian besar dari mereka yang sempat mengalami kelaparan massal, pengeboman, pembantaian, penyiksaan, dan perkosaan—baik oleh Nazi maupun Soviet—menyatakan bahwa derita perang, sepedih apa pun, telah menjadikan mereka pribadi yang lebih baik, lebih bertanggung jawab, dan lebih bahagia. Pra-perang mereka cenderung kurang bersyukur, malas, dan menyia-nyiakan hidup; pasca-perang mereka menjadi lebih percaya diri, yakin pada diri sendiri, dan tidak lagi dirisaukan hal-hal sepele. Hal serupa dilaporkan oleh penyintas kanker yang merasa lebih kuat dan lebih bersyukur setelah memenangkan pertempuran hidup, serta personil militer yang memperoleh ketangguhan mental dari bertahan di zona perang.

Dabrowski berkesimpulan bahwa rasa takut, kecemasan, dan kesedihan tidak selalu merupakan kondisi mental yang tidak diinginkan; justru sering kali ia menandai derita yang diperlukan untuk perkembangan jiwa. Sama seperti rasa sakit fisik diperlukan untuk membentuk tulang dan otot yang lebih kuat, sakit emosional dibutuhkan untuk membangun ketangguhan emosional, rasa percaya diri, dan kehidupan yang lebih berbelas kasihan. Perubahan perspektif paling radikal sering terjadi di ekor momen paling buruk—saat rasa sakit memaksa kita menimbang ulang nilai-nilai yang selama ini kita junjung tinggi. Manson menyebut momen ini "menembus badai," mengajak pembaca yang mungkin sedang mengalaminya untuk menerima bahwa derita adalah awal yang bagus, bukan akhir segalanya.

Manson lalu bercerita tentang dirinya yang kecil penasaran pada setiap VCR dan stereo baru: ia akan menekan semua tombol, mencabut-mencabut kabel, hanya untuk memahami cara kerjanya. Orang tuanya mengira ia anak jenius. Namun semakin dewasa, ia menyadari bahwa semua orang memiliki fase hidup yang serupa: duduk terpukau, mengelus dahi, dan bertanya "Tapi bagaimana cara melakukan hal ini?" padahal caranya gampang. Surel yang ia terima bertahun-tahun membuktikan itu: gadis yang orang tuanya menabung seumur hidup agar masuk sekolah kedokteran tapi kini membencinya; mahasiswa yang jatuh cinta pada dosennya dan mengirim surel sureal 28 halaman; ibu tunggal yang ingin anaknya pindah tapi takut setengah mati memintanya. Manson menjuluki ini "pertanyaan VCR"—pertanyaan yang tampak mudah dari luar, tetapi dari dalam terasa mustahil rumit.

Masalahnya adalah rasa sakit. Mengisi formulir pengunduran diri dari sekolah kedokteran adalah langkah yang jelas; yang rumit adalah melukai hati orang tua. Mengajak dosen berkencan itu mudah diucapkan; yang menakutkan adalah risiko malu dan penolakan. Manson sendiri bergumul dengan kecemasan sosial sepanjang remaja dan awal dewasa, menghabiskan waktu di depan video games dan minum-minum untuk mengusir rasa tidak nyaman. Emosinya menentukan realitasnya: karena merasa orang-orang enggan bicara dengannya, ia meyakini hal itu benar. Ia terjebak dalam keyakinan irasional bahwa tidak boleh berbicara dengan orang asing tanpa alasan kuat, atau bahwa wanita akan mengiranya pemerkosa hanya karena ia mengucapkan "halo." Banyak orang, saat merasakan sakit, memilih "merasa baik" secepat mungkin meski dengan menipu diri sendiri atau kembali ke nilai buruk. Manson mengajak kita belajar menahan rasa sakit yang telah kita pilih. Memilih nilai baru berarti memasukkan bentuk rasa sakit baru ke dalam hidup; rasakan, nikmati, terima, lalu lakukan. Hidup adalah tentang tidak mengetahui apa pun, dan kemudian melakukan sesuatu—tetap berlaku bahkan saat Anda bahagia, bahkan saat Anda Kentut bubuk peri, bahkan saat Anda memenangkan lotre dan membeli satu armada jet ski. Jangan pernah takut akan hal itu.

Prinsip "Lakukan Sesuatu"

Tahun 2008, setelah enam minggu bekerja penuh, Manson keluar dari pekerjaannya dan memulai bisnis online—sebuah blog tentang kehidupan kencan gila—meski ia benar-benar buta akan apa yang akan ia kerjakan. Pagi pertama sebagai wiraswasta, saat duduk di depan laptop dan menyadari ia bertanggung jawab penuh atas semua keputusan, ia disergap rasa ngeri, lalu melakukan hal yang lumrah dilakukan pria 24 tahun yang baru resign: mengunduh permainan komputer dan menunda bekerja. Minggu demi minggu berlalu, rekening bank berubah dari hitam ke merah, dan jelas ia butuh strategi untuk memaksa dirinya bekerja 12–14 jam sehari. Strategi itu datang dari masa SMA, dari guru matematikanya Mr. Packwood, yang pernah berkata: "Jika kalian terhenti di satu soal, jangan duduk saja dan hanya memikirkan hal itu; mulailah mengerjakannya. Bahkan jika kalian tidak tahu apa yang akan kalian lakukan, satu tindakan sederhana—mulai mengerjakan—pada akhirnya akan membuat beberapa ide yang tepat muncul di kepala Anda." Bagi Manson, nasihat itu menjadi mantra: "Jangan hanya duduk-duduk. Lakukan sesuatu. Jawaban akan muncul."

Setelah empat tahun merenungkan, Manson menarik pelajaran penting soal motivasi: tindakan bukan hanya efek dari motivasi; tindakan juga menjadi penyebab motivasi. Kebanyakan orang berpikir dalam rantai linear—inspirasi emosional memunculkan motivasi yang menghasilkan aksi. Tidak adanya motivasi berarti menunggu peristiwa besar yang menyulutnya. Padahal motivasi adalah lingkaran setan: aksi menghasilkan reaksi dan inspirasi emosional baru yang memicu motivasi baru dan aksi berikutnya. Dengan memahami ini, orientasi pola pikir bisa dibalik: aksi memicu inspirasi dan motivasi. Manson menamakannya "prinsip lakukan sesuatu." Saat mengajar pembaca dengan pertanyaan VCR mereka sendiri—"Bagaimana melamar pekerjaan?" atau "Bagaimana menyatakan perasaan ke seseorang?"—ia melihat bahwa memaksa diri melakukan sesuatu, bahkan pekerjaan paling rendah, dengan cepat membuat pekerjaan yang lebih besar terasa lebih mudah. Mendesain ulang seluruh situs web? Mulailah dengan header; sebelum sadar, ia sudah pindah ke bagian lain dan merasa berenergi. Tim Ferriss menceritakan kisah novelis yang telah menulis 70 lebih novel: ketika ditanya bagaimana ia konsisten, jawabannya, "Dua ratus kata yang kacau parah setiap hari, cuma itu." Jika standar sukses hanya "melakukan sesuatu," setiap hasil adalah kemajuan dan inspirasi menjadi imbalan, bukan prasyarat—kegagalan tidak lagi menakutkan, melainkan yang justru menggerakkan kita ke depan. Prinsip ini juga menjadi bagian dari proses mengadopsi nilai baru: ketika Anda di tengah badai eksistensial, ketika semua ukuran lama sudah usang dan Anda belum tahu yang baru, jawabannya tetap sama—lakukan sesuatu. "Sesuatu" itu bisa sekecil apa pun. Akui kalau Anda brengsek dalam semua hubungan dan ingin mengembangkan belas kasihan? Buat satu target kecil: luangkan waktu mendengar masalah seseorang dan membantu. Berjanjilah menganggap Andalah akar masalah saat kecewa. Coba satu ide dan lihat rasanya. Kadang itulah yang perlu dilakukan agar bola salju mulai menggelinding.

BAB 8: Pentingnya Berkata Tidak

Penolakan Membuat Hidup Anda Lebih Baik

Manson menceritakan episode hidupnya di 2009: setelah blog saran perkencanannya mendapat banyak perhatian dan menghasilkan lumayan dari penjualan PDF serta kursus online, ia menjual semua barang, menyimpan sebagian di gudang, dan pergi ke Amerika Latin selama bertahun-tahun—mengeksploitasi biaya hidup murah untuk membangun bisnis dan menjalani mimpi menjadi nomaden digital. Kedengarannya heroik, tapi di balik itu ada jejak rasa malu yang ia sendiri hampir tidak sadari: luka traumatik masa remaja telah meninggalkan masalah besar dengan komitmen, dan ia merasa berhak bertemu siapa pun, berteman dengan siapa pun, mencintai siapa pun. Mengapa harus terikat pada satu orang, satu kota, atau satu budaya? Selama lebih dari lima tahun ia keluyuran ke 55 negara, puluhan teman, beberapa kekasih yang datang silih berganti—pengalaman yang dalam sekaligus hampa. Pelajaran hidup terbaik ada di periode ini, begitu pula kesalahan terbesar. Sekarang, tinggal di New York dengan rumah, perabotan, tagihan listrik, dan seorang istri, Manson mengakui pelajaran terbesarnya: kebebasan mutlak, pada dasarnya, tidak ada artinya. Kebebasan membuka kesempatan untuk makna yang lebih besar, tetapi tidak mengandung makna apa pun di dalamnya. Satu-satunya cara mendapatkan makna adalah dengan menolak alternatif, menyempitkan pilihan, dan berkomitmen pada satu hal, satu keyakinan, atau satu orang.

Manson lalu mengisahkan pengalamannya di Saint Petersburg pada 2011: makanan parah, cuaca menyebalkan (salju di bulan Mei?), apartemen mengenaskan, segalanya mahal, orang-orang kasar dan berbau aneh, tidak ada yang tersenyum, semua doyan mabuk—tapi ia menyukainya. Budaya Rusia tidak kenal basa-basi palsu: jika sesuatu tampak bodoh, Anda katakan bodoh; jika seseorang brengsek, Anda katakan ia brengsek; jika Anda menyukai seseorang, Anda katakan. Tidak peduli apakah ia teman, orang asing, atau seseorang yang baru dijumpai lima menit lalu. Minggu pertama terasa menyeramkan: seorang gadis Rusia yang baru tiga menit berbincang dengan Manson di kedai kopi langsung mengolok-olok perkataannya sebagai bodoh, diucapkan selugas menyebut cuaca. Minggu-minggu berikutnya, setelah terbiasa, Manson menghargai apa yang selama ini ia cari: ungkapan yang jujur, komunikasi tanpa syarat dan tanpa motif terselubung. Guru Rusia-nya punya teori menarik: hidup di bawah komunisme selama beberapa generasi dengan peluang ekonomi nyaris nol mengajarkan bahwa mata uang paling berharga adalah kepercayaan. Untuk membangun kepercayaan, Anda harus jujur, dan saat hal-hal berubah menjadi buruk, Anda mengatakannya terbuka. Di budaya Barat "bebas" dengan peluang ekonomi melimpah, lebih bernilai menampilkan diri tertentu—meski palsu—daripada menjadi diri sendiri. Kepercayaan kehilangan nilainya, penampilan menjadi bentuk ekspresi yang lebih menguntungkan, mengenal banyak orang secara dangkal lebih menguntungkan daripada mengenal sedikit orang secara dekat. Itulah mengapa di Barat senyum palsu, bohong demi kebaikan, dan menyetujui sesuatu yang tidak disetujui menjadi norma—dan mengapa kita tidak akan pernah benar-benar tahu apakah bisa memercayai seseorang yang kita ajak bicara.

Sebagai perpanjangan budaya positif-konsumer, banyak dari kita telah diindoktrinasi bahwa kita harus menerima dan mengafirmasi segalanya. Padahal kita perlu menolak sesuatu—jika tidak, kita kehilangan alasan untuk bertahan, merasa hampa, dan hidup tanpa tujuan. Menghindari penolakan, baik memberi maupun menerima, sering dijual sebagai jalan membuat diri merasa lebih baik, tetapi kenikmatan sesaatnya membuat kita tanpa kemudi dalam jangka panjang. Untuk sungguh mengapresiasi sesuatu, Anda harus membatasi diri: ada tingkat kegembiraan dan makna yang hanya tercapai jika Anda menghabiskan puluhan tahun membina satu hubungan, satu karya, satu karier—dan itu mustahil tanpa menolak alternatif. Memilih sebuah nilai menuntut Anda menolak nilai-nilai dari pilihan lain. Memilih pernikahan sebagai hal paling penting dalam hidup berarti menolak pesta pora; memilih menilai diri dari kemampuan terbuka dan menerima pertemanan berarti menolak mengata-ngatai orang di belakang. Penolakan adalah bagian inheren dan penting untuk memelihara nilai serta identitas: kita ditentukan oleh apa yang kita tolak, dan jika tidak menolak apa pun—mungkin karena takut ditolak—pada dasarnya kita tidak punya identitas. Keinginan menghindari penolakan demi menjaga harmoni adalah bentuk keegoisan yang halus: orang-orang semacam ini merasa berhak selalu merasa baik, dan karena tidak mau menolak apa pun, mereka menjalani hidup tanpa nilai, disetir kenikmatan, dan mematikan diri sendiri. Kejujuran adalah kerinduan manusiawi yang alami, tetapi kejujuran menuntut kita tetap merasa nyaman mengucapkan dan mendengar kata "tidak." Dengan cara ini, penolakan justru membuat hubungan lebih baik dan kehidupan emosional lebih sehat.

Batasan

Manson menceritakan ulang Romeo and Juliet dengan nada satir: dua anak muda dari keluarga saling membenci, saling jatuh cinta dalam sekejap, menikah diam-diam, lalu bunuh diri gara-gara miskomunikasi—Juliet minum racun tanpa memberi tahu Romeo, Romeo mengira istrinya mati dan membunuh diri, Juliet bangun dan bunuh diri menyusul. Manson menduga kuat Shakespeare menulis tragedi ini bukan untuk merayakan roman, melainkan untuk menyatirkannya—sebagai baliho neon "JANGAN MASUK" dengan pita polisi "JANGAN TEROBOS." Dalam sebagian besar sejarah manusia, cinta romantis tidak dirayakan; hingga pertengahan abad ke-19, cinta dilihat tidak penting dan berpotensi menghambat perkara-perkara penting—berkebun baik atau menikahi pria pemilik banyak domba. Sekarang kita semua tertarik pada cinta gila yang semakin dramatis semakin baik: Ben Affleck meledakkan asteroid demi sang kekasih, Mel Gibson membunuh ratusan orang Inggris, Elven menyerahkan keabadian demi Aragorn, Jimmy Fallon memberikan tiket playoff demi Drew Barrymore. Cinta romantis ibarat kokain, kata Manson: menakutkan, merangsang bagian otak yang sama, memberi kenikmatan dan ketenangan sementara sambil meninggalkan banyak masalah untuk diselesaikan. Kebanyakan elemen yang kita kejar—kemesraan dramatis, momen naik-turun-jungkir-balk—bukan cinta yang sehat, melainkan keegoisan yang disandiwarakan dalam hubungan.

Ada cinta yang sehat dan tidak sehat. Cinta tidak sehat berdasar pada dua orang yang berusaha lari dari masalah lewat emosi yang saling mereka berikan—mereka menggunakan pasangan sebagai jalan keluar. Cinta sehat berdasar pada dua orang yang mengakui dan menghadapi masalah mereka sendiri dengan dukungan pasangan. Perbedaannya mengerucut pada dua hal: seberapa baik setiap orang menerima tanggung jawab, dan kesediaan setiap orang untuk menolak maupun ditolak. Di setiap hubungan tidak sehat muncul tanggung jawab yang keropos dan ketidakmampuan mengutarakan atau menerima penolakan. Di setiap hubungan sehat muncul batasan jelas antara dua orang dan nilai-nilai mereka, plus ruang terbuka untuk memberi dan menerima penolakan saat dibutuhkan.

Batasan adalah pengaturan tegas tentang tanggung jawab dua orang atas masalah masing-masing. Orang dalam hubungan sehat dengan batasan kuat mengambil tanggung jawab atas nilai dan masalah mereka sendiri, tidak atas nilai dan masalah pasangan. Contoh batasan buruk: "Kamu tidak boleh pergi tanpa aku, aku pencemburu"; "Teman kantorku bodoh, mereka membuatku terlambat rapat"; "Aku tidak percaya kamu membuatku kelihatan bodoh di depan saudariku, jangan pernah membantah saya di depannya"; "Aku mau ambil kerja di Milwaukee tapi ibuku tidak akan pernah memaafkanku"; "Aku bisa berkencan denganmu, tapi jangan bilang Cindy." Dalam setiap skenario, seseorang bertanggung jawab atas masalah/emosi yang bukan miliknya, atau menuntut orang lain bertanggung jawab atas masalah/emosinya sendiri. Orang-orang yang merasa harus diistimewakan terjebak salah satu jebakan: mengharapkan orang lain mengambil tanggung jawab masalah mereka, atau mengambil terlalu banyak tanggung jawab masalah orang lain. Strategi ini mereka pakai untuk menghindari tanggung jawab masalah sendiri—akibatnya hubungan rapuh dan palsu. Pola ini tidak hanya berlaku untuk hubungan romantis, tapi juga keluarga dan persahabatan: ibu yang dominan mengambil tanggung jawab atas semua masalah anak-anaknya, dan keistimewaan itu menurun sehingga anak-anak dewasa yakin orang lain harus bertanggung jawab atas masalah mereka. Itulah sebabnya masalah hubungan romantis Anda sering kali aneh mirip dengan masalah yang menimpa orang tua Anda dulu.

Ketika tanggung jawab atas emosi dan tindakan jatuh di area gelap—tidak jelas siapa bertanggung jawab untuk apa, siapa berbuat kesalahan apa, mengapa Anda melakukan apa yang Anda lakukan—Anda tidak akan pernah mengembangkan nilai yang kuat untuk diri sendiri. Satu-satunya nilai Anda menjadi membuat pasangan bahagia, atau satu-satunya nilai Anda menjadi membuat pasangan membahagiakan Anda. Itu melawan diri sendiri dan hubungan berjalan seperti Hindenburg, dengan segenap drama dan kembang api. Orang tidak bisa menyelesaikan masalah Anda, dan sebaiknya tidak mencobanya—begitu pula sebaliknya. Tanda hubungan tidak sehat adalah dua orang yang mencoba memecahkan masalah orang lain agar diri mereka sendiri merasa baik; tanda hubungan sehat adalah dua orang yang memecahkan masalah mereka sendiri agar keduanya merasa baik. Merancang batasan jelas bukan berarti tidak bisa saling menolong—Anda saling mendukung, karena memilih, bukan karena kewajiban. Dalam hubungan beracun terdapat dua tipe: sang korban yang menciptakan masalah untuk mendapatkan perhatian, dan sang penyelamat yang menolong untuk mendapatkan cinta—keduanya sabotase diri sendiri, dan ironisnya, saat berkencan dengan orang yang sehat secara emosional mereka merasa bosan karena batasan solid tidak cukup menstimulasi kenikmatan sesaat yang mereka cari.

Uji sederhana untuk membedakan tindakan berbasis cinta dari yang berbasis kewajiban: tanyakan pada diri sendiri, "Jika saya menolak, seperti apakah perubahan yang terjadi dalam hubungan kami?" Senada, tanyakan, "Jika pasangan saya menolak, seperti apa perubahannya?" Jika jawabannya penolakan akan mengakibatkan drama dan piring-piring pecah, itu pertanda buruk: hubungan Anda bersyarat, dilandasi keuntungan dangkal. Orang dengan batasan kuat tidak takut dimarahi, disangkal argumen, atau dilukai. Mereka paham bahwa tidak wajar mengharapkan dua orang saling mengakomodasi seratus persen; mereka mungkin kadang melukai perasaan pasangan, tapi mereka tidak bisa mengatur bagaimana orang lain merasakan sesuatu. Hubungan sehat bukan tentang saling mengendalikan emosi, melainkan saling mendukung pertumbuhan individual dan memecahkan masalah sendiri. Bukan soal peduli apa yang dipedulikan pasangan; ini soal memedulikan pasangan tanpa peduli apa yang diberikannya. Itulah cinta tanpa syarat.

Bagaimana Membangun Kepercayaan

Manson bercerita tentang istrinya yang gemar berlama-lama di depan cermin sebelum pergi keluar. Kadang hasilnya jelek—rambut berantakan, sepatu "avant-garde" ala perancang Milan—dan saat Manson mengatakan itu dengan jujur, sang istri biasanya marah, bergegas mengulang semuanya, membuat mereka telat setengah jam, dan menghujamkan kata-kata empat huruf padanya. Lelaki secara umum akan berbohong dalam situasi ini, tapi Manson tidak: kejujuran dalam hubungan lebih penting daripada sekadar membuat pasangan gembira. Beruntungnya, ia menikahi wanita yang bersedia mendengar pikiran-pikiran tanpa sensor dan menghargai omong kosongnya—salah satu perlakuan paling penting yang ditawarkan seorang pasangan. Ketika prioritas tertinggi adalah selalu membuat diri kita atau pasangan merasa senang, tidak ada seorang pun yang berakhir dengan perasaan senang, dan hubungan pecah berkeping-keping tanpa kita sadari. Tanpa konflik, tidak akan ada kepercayaan: konflik muncul untuk menunjukkan siapa yang ada untuk kita tanpa syarat dan siapa hanya untuk mendapatkan keuntungan. Tidak seorang pun memercayai orang yang selalu berkata "ya." Agar hubungan sehat, kedua pihak harus bersedia dan mampu mengatakan maupun mendengar kata "tidak"—tanpa negasi, batasan runtuh dan masalah satu orang akan mendominasi yang lain. Konflik bukan saja normal, melainkan penting untuk memelihara hubungan sehat; jika dua orang yang dekat tidak mampu mengeluarkan unek-unek secara terbuka dan vokal, hubungan itu berdasar pada manipulasi dan salah tafsir, dan perlahan menjadi racun.

Kepercayaan adalah bahan baku paling penting dalam segala jenis hubungan. Seorang gadis bisa mengutarakan cinta, ingin bersama, memberikan apa pun—tetapi jika Anda tidak memercayainya, tidak ada keuntungan dari pernyataan gadis itu. Anda tidak akan pernah merasa dicintai sampai Anda percaya bahwa cinta itu tidak disertai persyaratan atau embel-embel. Perselingkuhan berpotensi sangat menghancurkan bukan karena soal seks, melainkan karena kepercayaan yang dihancurkan oleh seks. Tanpa kepercayaan, hubungan tidak dapat lagi berfungsi: pilihannya membangun kembali kepercayaan atau mengucapkan selamat tinggal. Manson menerima surel dari orang-orang yang diselingkuhi pasangan tapi ingin tetap bersama, bertanya-tanya bagaimana bisa memercayai lagi. Tanpa kepercayaan, hubungan terasa seperti beban dan ancaman yang harus diwaspadai. Masalahnya: kebanyakan orang yang tertangkap basah berselingkuh meminta maaf dengan mantra "Hal itu tidak akan pernah terjadi lagi," seakan-akan itu kecelakaan, sementara korban menerima mentah-mentah dan tidak mempertanyakan nilai serta perbuatan pasangan. Mereka begitu fokus mempertahankan hubungan hingga gagal menyadari itu menjadi lubang hitam yang menelan harga diri.

Perselingkuhan disebabkan oleh sesuatu yang lebih penting dari hubungan itu sendiri—bisa soal kekuasaan, pembuktian diri lewat seks, atau memuaskan syahwat. Jelas nilai orang yang selingkuh tidak sejalan dengan cita-cita hubungan sehat. Jika tidak mengakui hal ini atau mencapai kesepakatan, jika hanya memberikan tanggapan "Aku stres, mabuk, dan dia kebetulan ada di sana," artinya ia kehilangan kesadaran diri yang akut untuk menyelesaikan masalah hubungan. Yang perlu dilakukan: orang yang berselingkuh harus mulai mengupas lapisan bawang kesadaran diri dan mencari tahu nilai-nilai buruk yang menghancurkan kepercayaan—serta apakah mereka masih menghargai hubungan itu. Mereka harus mampu berkata, "Kamu tahu: aku egois. Aku mementingkan diriku sendiri lebih dari hubungan kita; jujur, aku tidak menghargai hubungan ini sama sekali." Jika pelaku tidak bisa mengungkapkan nilai buruk dan menunjukkan kalau nilai itu sudah tidak diindahkan, tidak ada alasan lagi untuk percaya ia bisa dipercaya.

Faktor lain untuk mendapatkan kembali kepercayaan: rekam jejak. Jika seseorang mengkhianati kepercayaan Anda, janji terdengar manis, tapi Anda perlu mengikuti perubahan perilakunya dalam rekam jejak konsisten—hanya dengan ini Anda bisa mulai memercayai nilai-nilainya selaras dan ia sungguh akan berubah. Sayangnya, membangun rekam jejak kepercayaan butuh waktu lebih lama dibanding menghancurkannya, dan selama periode itu keadaan tampak kacau. Kedua orang harus menyadari perjuangan yang mereka pilih. Proses ini berlaku untuk semua pelanggaran dalam hubungan: ketika kepercayaan dihancurkan, dapat dibangun kembali hanya jika terjadi dua hal—penghancur kepercayaan mengakui bahwa ada nilai yang mengakibatkannya, dan membangun rekam jejak solid dari perilaku yang semakin baik. Kepercayaan seumpama piring terakota Cina: sekali rusak, dengan perhatian dan kasih sayang, Anda bisa menyatukan pecahannya kembali. Rusak kedua kali, kepingan lebih banyak dan butuh waktu jauh lebih lama. Rusak lagi dan lagi, akhirnya remuk hingga tak mungkin dipulihkan.

Kebebasan melalui Komitmen

Budaya konsumtif pandai membuat kita menginginkan lebih, lebih, dan lebih. Manson meyakini ide ini bertahun-tahun: menghasilkan lebih banyak uang, berkunjung ke lebih banyak negara, memiliki lebih banyak pengalaman, bersama lebih banyak wanita. Tetapi lebih banyak tidak selalu lebih baik; justru sering kita merasa lebih bahagia dalam situasi berkekurangan. Ketika diberi peluang dan pilihan terlampau banyak, kita menderita apa yang ahli psikologi sebut paradoks pilihan: semakin banyak pilihan, semakin kurang puas atas apa pun yang kita pilih, karena kita sadar akan semua pilihan lain yang mungkin kita korbankan. Dengan dua tempat untuk ditinggali, Anda akan merasa nyaman dan yakin memilih yang tepat; dengan 28 tempat, Anda menghabiskan waktu bertahun-tahun menyakiti diri, meragukan, dan mempertanyakan apakah sudah memilih kebahagiaan paling maksimal. Kecemasan akan kesempurnaan membuat Anda tidak bahagia. Jika Anda seperti Manson dulu, Anda menghindari memilih apa pun, menjaga pilihan tetap terbuka selama mungkin, menghindari komitmen.

Di sisi lain, membaktikan diri secara mendalam pada satu orang, satu tempat, satu pekerjaan, satu kegiatan akan menghalangi banyak pengalaman yang ingin kita cicipi—tapi mengejar pengalaman sebanyak-banyaknya justru menghalangi kesempatan mengalami nikmatnya kedalaman. Ada pengalaman yang hanya bisa dirasakan jika tinggal di tempat yang sama selama lima tahun, hidup dengan orang yang sama selama satu dekade, atau bekerja dengan keterampilan yang sama separuh hidup. Di usia tiga puluhan, Manson akhirnya mengenali komitmen menawarkan kesempatan kaya dan pengalaman yang tidak pernah ada di masa mudanya. Mengejar sensasi pengalaman luas membuat setiap pengalaman baru berkurang kesannya: negara pertama menginspirasi perubahan perspektif besar, negara ke-21 sudah kurang berkesan, negara ke-51 semakin kurang. Hal yang sama berlaku untuk kepemilikan materi, uang, hobi, pekerjaan, teman, pasangan—semakin umur bertambah, semakin berkurang pengaruh pengalaman baru. Pertama kali minum di pesta terasa luar biasa; keseratus kali menyenangkan; kelima ratus terasa biasa; keseribu membosankan.

Kisah besar Manson belakangan adalah kemampuan membuka diri terhadap komitmen: ia menolak segalanya dan hanya tinggal dengan orang-orang, pengalaman, dan nilai terbaik. Menghentikan semua proyek bisnis dan fokus pada menulis, situs webnya menjadi lebih terkenal dari yang pernah dibayangkan. Berkomitmen pada satu wanita untuk jangka lama—ia terkejut, ternyata jauh lebih berharga dibanding kencan satu malam. Berkomitmen pada satu lokasi geografis membuat hubungannya lebih berarti, asli, dan sehat berlipat ganda. Temuan yang berlawanan intuisi: ada kemerdekaan dan kebebasan dalam komitmen. Komitmen memberi kebebasan karena perhatian tidak lagi teralihkan pada hal-hal yang tidak penting; ini mengasah perhatian dan fokus, mengarahkannya pada yang paling efisien untuk membuat Anda sehat dan bahagia. Komitmen membuat pembuatan keputusan lebih mudah dan menghilangkan setiap ketakutan akan kehilangan—mengetahui apa yang sudah dimiliki cukup baik, mengapa stres mengejar lebih? Komitmen mengizinkan Anda berfokus sadar pada sedikit sasaran yang sangat penting dan mencapai derajat sukses lebih tinggi dibanding mereka yang menghindari.

Dengan cara ini, penolakan terhadap beberapa alternatif membebaskan kita—penolakan terhadap hal yang tidak selaras dengan nilai paling penting, terhadap pengejaran konstan akan keluasan dan bukan kedalaman pengalaman. Keluasaan pengalaman penting dan diinginkan saat masih muda—Anda harus keluar sana dan menemukan apa yang layak dicapai. Namun kedalaman pengalaman adalah letak emas terkubur, dan Anda harus tetap berkomitmen terhadap sesuatu dan terus menggalinya. Itulah hubungan sejati, dalam karier, dalam membangun gaya hidup luar biasa—dalam apa pun juga.

BAB 9: ...Dan Kemudian Anda Mati

Sesuatu di Luar Diri Kita

Manson memperkenalkan Ernest Becker, akademisi yang terbuang. Ph.D. antropologi 1960 dengan tesis membandingkan Zen Buddhisme dan psikoanalisis—dua topik yang saat itu dikonotasikan dengan hippies dan kultur Zaman Batu. Pekerjaan pertama sebagai asisten教授: dia bergabung komunitas yang mencela psikiatri sebagai bentuk fasisme—padahal bosnya seorang psikiater. Dipecat. Pindah ke Berkeley, juga tidak bertahan lama. Metode pengajarannya memang aneh: Shakespeare untuk mengajar psikologi, buku psikologi untuk antropologi, data antropologi untuk sosiologi. Berpakaian seperti King Lear, bertarung dengan pedang di kelas, memulai debat politik panjang yang nyaris tak nyambung dengan rencana pelajaran. Mahasiswa memuja, fakultas lain membenci. Kurang dari setahun, dipecat lagi. Universitas Negeri San Francisco: kali ini bertahan lebih dari setahun, tapi saat protes mahasiswa anti-Perang Vietnam berkonfrontasi dengan Garda Nasional, Becker berdiri di pihak mahasiswa dan mengecam dekan—lagi-lagi, dipecat. Empat kali pindah kerja dalam enam tahun. Sebelum dipecat kelima, kanker usus besar datang. Dokter meramalkan tidak ada harapan. Becker di tempat tidur, lalu memutuskan menulis buku tentang kematian. Becker meninggal 1974. Bukunya, The Denial of Death (Mengingkari Kematian), memenangkan Pulitzer, menjadi salah satu karya intelektual paling berpengaruh abad ke-20, dan mengguncang psikologi serta antropologi.

The Denial of Death pada intinya menegaskan dua hal. Pertama, manusia unik karena satu-satunya binatang yang mampu mengonsep dan berpikir tentang diri sendiri secara abstrak—anjing tidak mencemaskan karier, kucing tidak merenungkan kesalahan masa lalu, monyet tidak memperdebatkan kemungkinan masa depan. Karena kemampuan mental unik ini, semua manusia pada titik tertentu menyadari kematian yang tak terhindarkan, dan karena mampu mengonsep fakta dengan versi lain, kita juga satu-satunya hewan yang mampu membayangkan realita tanpa kita di dalamnya. Kesadaran ini mengakibatkan apa yang Becker sebut "teror kematian"—kegelisahan eksistensial mendalam yang mendasari semua yang kita pikirkan atau lakukan. Poin kedua Becker dimulai dari premis bahwa kita memiliki dua "diri": diri fisik (yang makan, tidur, mendengkur, dan berak) dan diri konseptual (identitas kita atau bagaimana kita memandang diri sendiri). Kita sadar diri fisik pada akhirnya akan mati, dan ini menakutkan; untuk mengompensasi, kita membangun diri konseptual yang akan hidup abadi. Itulah mengapa orang berusaha mematrikan nama di gedung, patung, buku; mengapa kita terdorong membaktikan diri untuk orang lain, terutama anak-anak, dengan harapan pengaruh kita—diri konseptual—tetap ada melampaui diri fisik. Becker menyebut ini "proyek keabadian," yang membuat diri konseptual tetap hidup setelah kematian fisik. Semua peradaban manusia merupakan hasil dari proyek abadi ini; kota, pemerintahan, struktur, dan otoritas adalah diri konseptual yang tertinggal dan tidak bisa mati. Nama seperti Yesus, Muhammad, Napoleon, dan Shakespeare memiliki kekuatan sama kuatnya dengan saat mereka hidup, atau justru bertambah kuat. Entah melalui seni, penaklukan tanah, kekayaan, atau keluarga besar yang saling menyayangi, semua makna hidup kita dibentuk oleh hasrat alami untuk tidak pernah mati. Agama, politik, olahraga, inovasi teknologi adalah hasil proyek keabadian. Becker berpendapat perang, revolusi, dan pembunuhan massal terjadi ketika proyek keabadian satu kelompok bergesekan dengan proyek kelompok lain.

Ketika proyek keabadian kita gagal, ketika makna itu hilang, ketika kemungkinan diri konseptual kita hidup lebih lama dari diri fisik tidak lagi terlihat bisa terjadi, maka teror kematian kembali merayapi. Trauma, rasa malu, ejekan sosial, sakit mental bisa mengakibatkan ini. Proyek keabadian adalah cerminan nilai-nilai kita, barometer makna dan penghargaan yang kita hidupi; ketika nilai gagal, diri kita gagal secara psikologis. Pada intinya, kita semua digerakkan rasa takut dan peduli terhadap terlalu banyak hal, karena peduli adalah satu-satunya cara mengalihkan perhatian dari fakta kematian. Untuk sungguh-sungguh bodo amat terhadap sesuatu, seseorang perlu sampai pada tahap semi-spiritual di mana ia menyadari kefanaan dirinya. Becker sendiri sampai pada kesadaran mencengangkan di akhir hidupnya: proyek keabadian orang-orang sesungguhnya adalah masalah, bukan solusi. Alih-alih mewujudkan diri konseptual secara megah—kadang dengan cara berbahaya—orang seharusnya mempertanyakan diri konseptual mereka dan mencoba bersahabat dengan realita kematian mereka. Becker menyebut ini "antidot yang pahit": begitu merasa nyaman dengan fakta kematian, akar ketakutan dan kecemasan yang memotivasi ambisi dangkal, kita mampu memilih nilai dengan lebih bebas, tidak dikendalikan pencarian keabadian yang tidak logis, dan terbebas dari pandangan dogmatik yang berbahaya.

Sisi Cerah Kematian

Manson membuka subbab ini dengan adegan pendakian di Tanjung Harapan, Afrika Selatan—ujung paling selatan Afrika dan titik paling selatari di dunia, tempat badai dan laut mengamuk. Selama berabad-abad dipandang pencapaian perdagangan dan umat manusia, yang ironisnya justru menghilangkan harapan. Ungkapan Portugis, Ele dobra o Cabo da Boa Esperança, artinya "Dia mengitari Tanjung Harapan"—mengandung makna seseorang di fase akhir hidup, tidak mampu menyelesaikan apa pun lagi. Manson melangkahi bebatuan, membiarkan lautan menelan pandangannya: berkeringat sekaligus kedinginan, gembira tapi cemas. Tiga meter dari tepi tebing, tubuh punya radar alami—punggung kaku, kulit berdesir, mata fokus berlebihan, kaki terasa seperti batu; magnet tak terlihat menarik badan ke belakang agar selamat. Manson melawan magnet itu, menyeret kaki mendekati tepi. Satu setengah meter, pikiran berkecamuk: bayangan jatuh, percikan kematian, suara "Bung, apa yang sedang kamu lakukan?" Satu meter—tubuh memberi peringatan penuh, lampu merah, kaki dan tangan gemetar. Ia menyuruh pikirannya diam, terus melangkah. Tiga puluh sentimeter, ia merasa mengambang, apa pun kecuali melihat ke bawah membuatnya seperti menjadi bagian langit itu sendiri. Ia meringkuk sejenak, menghela napas, menyatukan pikiran, memaksa menatap ke bawah—air menjilati batu. Angin menerjang keras, pikiran bertubi-tubi menyiksa. Tiba-tiba dorongan kuat untuk menangis; tubuh meringkuk melindungi diri. Setelah beberapa saat, ia menegakkan badan, melihat ke atas, mendapati diri tersenyum: mati tidak apa-apa.

Keinginan dan interaksi dengan kematian ini berakar di masa lampau. Stoa Yunani dan Romawi memohon orang-orang terus menjaga kesadaran akan kematian dalam benak, sehingga lebih menghargai kehidupan dan tetap rendah hati dalam kemalangan. Buddhisme mengajarkan meditasi sebagai persiapan menghadapi kematian selagi masih hidup; melarutkan ego ke dalam ketiadaan luas—mencerap nirwana—dilihat sebagai uji coba menyeberang ke sisi lain dunia. Mark Twain berkata, "Ketakutan akan kematian menandakan ketakutan akan kehidupan. Seseorang yang hidup secara paripurna, siap mati kapan saja." Kembali ke Tanjung Harapan, Manson duduk, meletakkan tangan di belakang tubuh, menggeser satu kaki ke bibir jurang, menemukan batu kecil yang menonjol, menggeser kaki satunya. Berbaring di atas kepalan tangan, rambut berkibar; kecemasan teratasi selama tetap fokus pada cakrawala. Saat duduk tegak dan melihat ke bawah, rasa takut kembali menyergap, menyetrum anggota tubuh, bagai laser memfokuskan pikiran pada setiap inci tubuh—merasa tercekik. Setiap merasa sesak napas, ia mengosongkan pikiran, berkonsentrasi pada dasar jurang, memaksa menatap lekat-lekat kiamat di depannya, lalu mengakuinya saja. Di ujung harapan paling selatan, ia merasa gembira, adrenalin terpompa, begitu tenang dan sadar—tidak pernah begitu menegangkan. Ia mendengarkan angin, memandangi samudera, dan tertawa bersama cahaya.

Menghadapi kenyataan kematian sendiri penting karena melenyapkan semua nilai buruk, rapuh, dan dangkal. Sementara sebagian orang bersungut-sungut mencari uang, ketenaran, atau kepastian bahwa mereka dicintai, kematian menghadapi kita dengan pertanyaan jauh lebih menyakitkan: apa warisan Anda? Bagaimana dunia akan berbeda dan lebih baik setelah Anda tiada? Pengaruh apa yang akan Anda berikan? Mereka berkata kepakan kupu-kupu di Afrika menyebabkan topan di Florida; topan apa yang akan Anda tinggalkan? Seperti ditunjukkan Becker, itulah satu-satunya pertanyaan yang sangat penting dalam hidup, tapi kita menghindar memikirkannya—karena sulit, menakutkan, dan kita tidak tahu akan melakukan apa. Ketika menghindar, kita membiarkan nilai sepele dan penuh kebencian membajak otak dan mengambil alih hasrat. Kematian adalah satu-satunya hal yang bisa kita ketahui dengan pasti, dan karenanya harus menjadi kompas petunjuk arah dari nilai dan keputusan. Satu-satunya cara merasa nyaman dengan kematian adalah memahami dan melihat diri sebagai sesuatu yang lebih besar dari diri sendiri—memilih nilai yang melampaui nilai yang hanya melayani diri sendiri, yang sederhana dan toleran terhadap dunia carut-marut. Inilah akar semua kebahagiaan. Entah Aristotle, psikolog Harvard, Yesus Kristus, atau Beatles, mereka semua mengatakan kebahagiaan datang dari peduli terhadap sesuatu yang lebih besar dari diri sendiri, memercayai diri sebagai komponen yang berkontribusi dalam entitas jauh lebih besar, bahwa hidup hanya secuil proses dari produk besar yang menjadi misteri. Inilah perasaan yang dicari saat ke gereja, yang diperebutkan dalam peperangan, alasan orang berkeluarga dan menabung untuk pensiun serta membangun jembatan dan telepon seluler: perasaan menjadi bagian dari sesuatu yang lebih agung.

Kepongahan melucuti perasaan ini. Gaya tarik kepongahan menarik semua perhatian ke dalam, membuat kita merasa kitalah pusat masalah alam semesta, satu-satunya yang mengalami ketidakadilan, yang paling berhak. Kepongahan mengisolasi: rasa penasaran dan kegembiraan berubah dan mencerminkan bias serta proyeksi sendiri pada setiap orang dan peristiwa. Ini terasa seksi dan menggoda, mungkin enak untuk sementara, tapi racun spiritual. Saat ini, kita mungkin sejahtera secara material tapi tersiksa secara psikologis. Orang-orang melepas tanggung jawab, menuntut masyarakat mengurus perasaan dan sifat cepat tersinggung; memegang kepastian membabi buta, memaksakannya ke orang lain, seringkali dengan kekerasan, mengatasnamakan kebenaran yang dibuat-buat. Pemikiran modern yang manja telah menciptakan populasi yang merasa layak mendapat sesuatu tanpa berusaha, merasa berhak atas sesuatu tanpa mau berkorban. Orang-orang menyatakan diri sebagai ahli, wiraswasta, penemu, pembawa inovasi, unik, dan coach tanpa pengalaman hidup nyata—bukan karena mereka pikir lebih hebat, tapi karena merasa perlu menjadi lebih hebat agar bisa diterima di dunia yang hanya menyiarkan orang-orang luar biasa. Budaya kita merancukan antara perhatian besar dan kesuksesan besar—mengira keduanya hal yang sama, padahal tidak.

Anda sudah hebat, Manson menegaskan—entah Anda atau orang lain menyadarinya. Bukan karena meluncurkan aplikasi iPhone, menyelesaikan sekolah setahun lebih awal, atau membeli kapal keren. Anda sudah hebat karena di depan wajah kematian tak berujung yang membingungkan dan pasti, Anda terus memilih apa yang Anda pedulikan dan apa yang Anda pikir bodo amat. Dari fakta itu saja—membuat pilihan sederhana berdasarkan nilai hidup—sudah membuat Anda indah, sukses, dan dicintai, bahkan saat tidak menyadarinya, bahkan jika Anda tidur di selokan dan kelaparan. Anda terlalu muda untuk mati karena cukup beruntung masih hidup sekarang. Berdirilah di atas jurang suatu saat, dan mungkin Anda akan berubah pikiran. Bukowski pernah menulis, "Kita semua akan mati, semuanya. Menakutkan bukan? Alasan itu saja seharusnya membuat kita saling mencintai, tetapi tidak. Kita diteror dan digilas oleh hal-hal yang remeh; ditelan oleh kehampaan."

Kembali ke malam di danau Texas saat jasad Josh ditarik keluar oleh paramedis, Manson memandangi malam gelap dan menyaksikan egonya perlahan larut. Kematian Josh mengajari banyak hal—memanfaatkan hari dengan sebaik-baiknya, mengambil tanggung jawab atas pilihan, mengejar mimpi tanpa merasa malu. Namun itu semua efek samping dari pelajaran lebih dalam: tidak ada yang perlu ditakuti. Sungguh. Dengan mengingatkan diri akan kematian—melalui meditasi, mempelajari filsafat, atau berdiri di atas jurang di Afrika Selatan—adalah satu-satunya cara menggenggam kenyataan ini di depan dan tengah pikiran. Dengan menerima kematian dan memahami kerapuhan diri, semuanya menjadi lebih ringan: mengurai kecanduan, mengidentifikasi dan menghadapi diri yang merasa berhak, menerima tanggung jawab untuk masalah sendiri, mengalami ketakutan dan ketidakpastian, menerima kegagalan dan memeluk penolakan—semua terasa lebih ringan dengan memikirkan kematian sendiri. Semakin berkawan dengan kegelapan, hidup semakin bercahaya, dunia semakin sunyi, perlawanan bawah sadar terhadap apa pun semakin mereda.

Manson memutuskan berdiri, mengecek tanah di sekitar, memastikan posisi aman, mulai berjalan mundur ke kenyataan—dua meter, lima meter, tubuh berangsur pulih dengan setiap langkah, kaki lebih ringan, ia membiarkan magnet kehidupan menariknya. Saat melangkah melewati beberapa batu kembali ke jalan utama, seorang pria Australia memandangnya. Pria itu berkata, dari aksennya, bahwa ia melihat Manson duduk di tepi jurang. Manson tersenyum, "Ya. Pemandangannya sangat cantik, bukan?" Pria itu memasang mimik serius, ada momen sunyi canggung. Setelah beberapa waktu ia bertanya dengan hati-hati, "Apakah semuanya baik-baik saja? Apa yang kamu rasakan sekarang?" Manson mengambil jeda, masih tersenyum, "Hidup. Sangat hidup." Keraguan pria itu terpatahkan, tampak tarikan senyum, ia mengangguk dan berjalan menuruni jalan setapak. Manson berdiri di atas, menikmati pemandangan, menunggu teman-temannya sampai ke puncak.

Ucapan Terima Kasih

Manson berterima kasih pertama-tama dan paling utama kepada istrinya yang luar biasa dan cantik, Fernanda—yang tidak pernah enggan berkata tidak kepadanya saat ia benar-benar membutuhkannya. Bukan hanya karena Fernanda menjadikannya pribadi lebih baik, tetapi cinta tanpa syarat dan masukannya yang terus-menerus sangat diperlukan selama proses penulisan. Untuk orang tuanya, yang tetap bertahan dengan segala hal buruk yang ia buat bertahun-tahun namun tetap mencintainya. Dalam banyak hal, ia tidak merasa sepenuhnya menjadi dewasa hingga memahami banyak konsep dalam buku ini; ia sangat senang mengenal mereka sebagai orang dewasa yang sebenarnya beberapa tahun belakangan. Juga untuk saudaranya: tidak pernah meragukan kasih sayang dan rasa hormat di antara mereka, meski kadang ia merasa sakit hati karena sang saudara tidak membalas pesan singkatnya.

Untuk Philip Kemper dan Drew Birnie—dua otak luar biasa yang diam-diam membuat otak Manson terlihat lebih besar dari yang sesungguhnya, kerja keras dan kecemerlangan mereka tidak berhenti ia rasakan. Untuk Michael Covell, karena menjadi penguji ke-stres-an intelektual, terutama saat tiba waktunya memahami penelitian psikologi, dan karena selalu menantang asumsi-asumsinya. Untuk editor Luke Dempsey, yang tanpa ampun mengencangkan sekrup dalam tulisannya dan kemungkinan memiliki mulut lebih pedas darinya. Untuk agen Mollie Glick, yang membantu menentukan visi buku dan memperkenalkannya ke dunia lebih jauh dari yang pernah ia harapkan. Untuk Taylor Pearson, Dan Andrews, dan Jodi Ettenburg, atas dukungan selama proses; ketiganya membuatnya tetap berkomitmen dan waras—dua hal yang sangat dibutuhkan setiap penulis. Dan akhirnya, jutaan orang yang memutuskan membaca tulisan seorang bermulut besar dari Boston tentang kehidupan di blognya. Banjir surel dari mereka yang berkenan mengungkap pojok pribadi kehidupan kepada orang asing seperti dirinya, mengingatkan untuk tetap rendah hati sekaligus menginspirasi. Hingga titik ini di hidupnya, ia telah menghabiskan ribuan jam membaca dan mempelajari topik-topik tersebut, namun mereka semua tidak henti menjadi guru sejatinya.

Mengenai Pengarang

MARK MANSON adalah seorang blogger kenamaan dengan lebih dari 2 juta pembaca. Ia tinggal di kota New York. Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat adalah buku pertamanya.

Dalam buku pengembangan diri yang mewakili generasi ini, seorang blogger superstar menunjukkan bahwa kunci untuk menjadi orang lebih kuat dan lebih bahagia adalah dengan mengerjakan segala tantangan dengan lebih baik dan berhenti memaksa diri untuk menjadi "positif" di setiap saat. Selama beberapa tahun belakangan, Mark Manson—melalui blognya yang sangat populer—telah membantu mengoreksi harapan-harapan delusional kita, baik mengenai diri sendiri maupun dunia. Ia menuangkan buah pikir dalam buku hebat ini. Manson melontarkan argumen bahwa manusia tak sempurna dan terbatas: tidak semua orang bisa menjadi luar biasa—ada pemenang dan pecundang di masyarakat, dan beberapa di antaranya tidak adil dan bukan akibat kesalahan Anda. Manson mengajak kita mengerti batasan diri dan menerimanya—baginya, inilah sumber kekuatan paling nyata. Tepat saat kita mampu mengakrabi ketakutan, kegagalan, dan ketidakpastian—tepat saat kita berhenti melarikan diri dan mengelak, dan mulai menghadapi kenyataan yang menyakitkan—saat itulah kita mulai menemukan keberanian dan kepercayaan diri yang selama ini kita cari dengan sekuat tenaga. "Dalam hidup ini, kita hanya punya kepedulian dalam jumlah yang terbatas. Makanya, Anda harus bijaksana dalam menentukan kepedulian Anda." Manson menciptakan momen perbincangan serius dan mendalam, dibungkus cerita-cerita yang menghibur dan "kekinian", serta humor cadas. Buku ini merupakan tamparan di wajah yang menyegarkan untuk kita semua, supaya bisa mulai menjalani kehidupan yang lebih memuaskan, dan apa adanya.